Senin, 17 Maret 2014

Sekolah Itu Ibu (Part 3)


Oke..
Sekarang, bercerita sudah bisa lebih obyektif, bisa menerawang perasaan beberapa pihak yang berhadapan langsung dengan hidupku, sangat berbeda dengan perasaanku kala itu. Kalut!! atau kalau bahasa anak sekarang galau, tapi tak ada pilihan lain*.
*Keinginan, cita-cita yang begitu menderu semenjak kecil, harus dihadapkan pada hati nurani yang melongok pada bingkai kehidupan yang sebenarnya. Aku tahu aku harus berbagi dan tak mungkin keegoisanku kubiarkan merenggut semuanya!! Kembali pada pasal satu, ‘”lakukan saja yang terbaik”.

Deal!!!
Lakukan saja yang terbaik....
Kuyakini, Bapak Ibu akan mengusahakan apa yang bisa mereka usahakan untuk anak-anaknya. Aku sangat tahu itu!! Tapi aku punya perhitungan lain. Jadi, tidak ada yang meminta maupun memaksa, dalam pilihan ini! 100% atas kesadaran hati meskipun sebenarnya bukan pilihan hati (*harus jujur kuakui). Keyakinanku hanyalah, kesadaran hati akan membuahkan keikhlasan untuk melakukan,   lalu keikhlasan?? Bukankan akan dilunaskan sebuah kebahagiaan??ya aku sangat mengamini keyakinan itu, bahkan terus dan terus berusaha memupuk keyakinan itu...keikhlasan akan membuahkan kebahagiaan!!Meski kapan, entah kepastian darimanapun tak terketahui...karena itu adalah rahasia di balik langit, rahasia Sang Pemilik Nafas!!

Ya, semua berjalan tanpa kendala. Satu dua hari berjalan berganti tahun,  tahun berganti masa. Semua berjalan dengan baik, dan hanya bisa mengupayakan dan berhadap agar membuahkan pula sesuatu yang lebih baik. Bertemu dengan sahabat-sahabat terbaik membuat semakin berdamai dengan pilihan ini. Dialah Jauharin Pintam Tyastirin (*panggilannya Ririn, kupanggil ia dengan “Cinta”), yang dengan dialeg ngapaknya selalu menghadirkan tawa di kamar asrama nomor 21. Menjadi partner yang dahsyat dalam curhat dan ngobrol tengah malah diatas genting lantai 2 itu untuk menikmati pelabuhan tanjung mas di kejauhan malam, merenungi perjalan hidup dan menggambar pola masa depan..Menjadi teman bisnis yang baik untuk membeli jilbab di pasar johar untuk dijual kembali, paling tidak bisa untuk jajan bakso poltabes tiap akhir pekan tanpa harus mengharapkan transferan!! Ialah juga Nining Setyaningsih (*kupanggil Tiwul, karena ia asli wonogiri), sahabatku yang cantik sekali ini selalu memberikan cerita-cerita cintanya dengan sang pangerah hati yang ia kenalnya saat sama-sama menuju Semarang. Aku hanya bisa manggut manggut mendengar kisah-kisahnya sama mas Memet, karena aku juga selalu dapat untungnya, ya segepok coklat itu juga pasti mampir ke mulutku. (*Senangnya liburan kemarin sahabat-sahabat terbaikku ini berkunjung kerumahku bersama keluarga dan anak-anak mereka. *Tiwul bener2 jadi sama mas Memet, pertemuan itu jadi reunian cerita-cerita cinta mereka. Makasih mete dan baksonya tiwul, makasih batiknya yang indah Cinta). Semua teman pada kisah ini sangat luar biasa, karena kami hanya ber-40, kami tinggal bersama pula di asrama, banyak kisah-kisah yang luar biasa. *Miss u all...

Cerita cerita remaja dengan intriknya juga masih bersliweran disini. Dengan Munculnya tokoh-tokoh yang pernah mewarnai dan menyemai bunga-bunga di hati. Kembali, rahasia langit itu masih rapat, belum ada keyakinan hati untuk melabuhkan perahu hati itu pada sang penyemai bunga. Masih abu-abu...masih penuh ragu-ragu...meski ada satu nama itu, yang agak susah dimengerti, mengapa selalu menjejali segenap perasaan sehingga menjadi ada rindu!??Rasa ini seperti pernah kurasakan...kenapa kini muncul lagi?? Ah kenapa juga harus ada perasaan itu...*berarti hati ini sedang sakit!!*

Diujung tahun ketiga, semua terasa sudah lebih lekat dihati..Tak ada penolakan, ataupun pergolakan selain hanya ingin menuntaskan perjalanan ini dengan nilai yang baik dan “HARUS” bisa melanjutkan bangunan mimpi itu!! Alhamdulillah 3 tahun itu usai dengan nilai memuaskan!

Ketika perjalanan ini usai, hati justru tak menentu!! Aku tak ingin hanya berhenti disini??
Di pos satpam asrama itu terpampang nyata, menohok rasa hati menjadi semakin ingin, bahkan sangat sangat ingin sekali...tertulis di sana Universitas Padjadjaran DIV*** membuka mahasiswa baru bla bla bla...
*aku ingin kuliah lagi* titik.

(Sekali lagi, jawaban Bapak dan Ibu BUKAN masalah uang. Keyakinanku pada mereka, lebih pada mereka menginginkan aku untuk menjadi manusia yang lebih tangguh). Jawaban mereka kala itu *Kalau mau lanjut kuliah, carilah jalan, upayakan dengan kemampuanmu sendiri Nak”.

Seperti tersambar halilintar, tersungkur pilu. Sepertinya semuanya sudah habis, sudah selesai disini!!Dilengkapi pula dengan jawabannya kala itu “Aku sayang kamu, tapi aku ingin kamu lebih dari ini???”

Apa ini maksudnya Ya Rabb???*tersungkur lunglai.

*Merasa lengkap sudah robohnya bangungan itu, cita-cita, cita cinta??* Tak bisa kubayangkan pun sekarang, betapa susahnya aku merangkai kembali patahan-patahan semangat itu. Akupun masih pilu mengenang masa-masa itu. Entah kekuatan dari mana akhirnya aku dapat menegakkan kembali sandaran itu, kembali berjalan meskipun tertatih-tatih, dan nyeri...

Tanggal 18 Oktober tahun 2003, beberapa hari setelah wisuda, dan aku “masih remuk”, dia, teman lamaku, di tengah sawah di daerah Kuningan ia meneleponku, ia bercerita tentang banyak hal. Sebenarnya saat itu aku benar-benar lupa dengan wajah teman SMAku yang satu ini.  Ia menelepon pada saat yang tepat. *Tepat galau!. Ya, akhirnya aku bercerita tentang “keterpurukanku”, dan ia hanya menjawab...”ceritakanlah semua pada Sang Penjaga Alam yang Maha Besar dan maha Kuat, Dialah yang akan mengirim kekuatan itu untukmu”. “kukenal kamu tidak seperti ini”. *Terima kasih kawan!* tapi, dia dapat nomerku dari mana??????*

Ya benar, Sang maha Kaya Raya akan Dunia Seisinya, sangat nyata mengecas semangat yang kemarin hilang..Meski sedikit demi sedikit, semua kembali berjalan seperti biasa. Aku jua telah mulai bekerja, membantu sebuah klinik yang dibangun bersama ummat waktu aku masih duduk di kelas VI SD. Kepuasan tak terhingga bisa mengabdikan sebagian ilmu itu untuk mereka!!

Kembali mencari beasiswa, baik dari koran maupun dari informasi teman-teman. Dosenku, memberi tahu dan memintaku mendaftar di sebuah institusi di Purwokerto yang sedang membutuhkan staf pengajar dan akan disekolahkan di Unpad (*bukankah ini mimpiku??). Kudiskusikan dengan keluarga besar termasuk kakak sepupuku yang tinggal di Purwokerto. Selain ikatan dinasnya 8 tahun, ada pertimbangan lain dari kakak sepupuku yang kuyakini beliau jauh lebih paham, maka akhirnya kesempatan itu tidak kuambil. Dan Cinta-lah, sahabatkku yang masuk kesana, yang sebelumnya sudah kuberi tahu tentang plus minusnya yang akhirnya tawaran itu kutolak. It’s your way cinta (Im sorry to hear that, cinta bercerita ia keluar dengan tidak nyaman dengan institusi tersebut, yang kuat ya cinta!!*alhamdulillah cinta dah dapet pekerjaan yang jauh jauh lebih nyaman dan aman ya cin!!)

Ia, teman lamaku pulang. Ia datang kerumah bersama sahabatku, namanya Adi. Ia adalah temanku SMA yang juga sering main ke asrama karena ia kuliah di D1 STAN di Semarang. Kembali kuceritakan tentang pencarianku atas kesempatan-kesempatan emas “agar dapat segera kuliah lagi”. Ia, temanku yang kuliah di Bandung ini dengan baik hatinya bersedia mengantarkanku ke Semarang untuk mencari peruntungan itu. Beberapa kampus yang kemarin sudah memberikan penawaran melalui dosenku kudatangi dan hasilnya nihil, tak ada kesepakatan. Semua memberikan waktu ikatan dinas lebih dari 5 tahun. Kakak sepupuku mewanti wanti ikatan dinas tidak boleh lebih dari 3 tahun dengan perhitungan 2n+1. Kalau lebih dari itu, pasti ada hak yang tidak seimbang, kita sebagai mahasiswa ikatan dinas akan diikat lebih dari hak yang kita dapat waktu sekolah.  Sebenarnya kesempatan itu ada di depan mata, hanya saja tidak ada kesepakatan!dan aku menurut! Mereka (Bapak, Ibu, Kakakku) pasti punya pertimbangan yang lebih matang dibandingkan dengan emosi sesaatku!

Suatu ketika, Ibu pulang dari Kantor membawa sesobek kertas yang Ibu dapat dari temannya, namanya Bu Esti (*Matur nuwun bu atas kertas emas itu). Tertulis disana sebuah sekolah tinggi ilmu kesehatan sedang membuka DIV *** dan akan memberikan beasiswa penuh pada 5 pendaftar dengan nilai ujian masuk tertinggi dan akan diangkat sebagai staf pengajar dengan ikatan dinas 3 tahun!! *semangat kembali berkobar*

Kuhubungi teman-teman kuliahku, dan akhirnya kami bertemu di Semarang, belajar bersama dan bertempur bersama. Pada hari H ujian itu, sekitar 60 orang dan diantaranya adalah teman-temanku kuliah, mencoba peruntungan itu. Aku tak pikir panjang toh doktrin Bapak masih menyala, “sekolah itu ibu...bukan untuk dipilih, tapi lakukan saja yang terbaik, bukan sekolah yang akan membawa kesuksesan untukmu, tapi dirimu sendiri”.*iya pak, manggut-manggut*

Satu minggu kemudian pengumuman itu disampaikan, entah rahasia yang ada dipendaran langit, entah apa skenario yang tertulis di buku kehidupanku olehNya, entah apa yang ada dalam ketentuanNya, nama ku ada di urutan pertama itu! Sayangnya tak ada satupun nama teman-temanku disana.

Kembali harus kuhilangkan sekolah yang pernah kuimpikan, ya ini  menjadi babak kedua dari cerita kecilku kala itu, bukan karena nilaiku, tapi ada kebijakan dari Bapak dan Ibu dengan perhitungannya yang maha dahsyat akhirnya aku bersekolah di SMP Muhammadiyah Tanjung. Seperti Babak kehidupan kedua juga ketika aku bersekolah di SMA N 1 Muntilan, disini satupun tak ada yang kukenal. Ya, ini menjadi perjuangan hidup sesi 3!!

Kabar gembira itu kusampaikan pada teman lamaku itu, kutelpon ia, kusampaikan terima kasih atas semua suntikan semangatnya selama ini! Syukurku tak terhingga, di terdalam hati sangat meyakini... semua rahasia langit, entah apa skenario yang tertulis di buku kehidupanku olehNya, entah apa yang ada dalam ketentuanNya, semua pasti yang terbaik untukku, untuk keluargaku...dan aku harus dapat memberikan kebaikan itu yang orang lain...semoga!!!
Terimakasih untuk STIKES  Respati Yogyakarta atas kesempatan emasnya yang telah diberikan kepadaku...

Notes:
*) Perlu belajar memanajemen hati, legowo,  ketika ada suara yang tidak nyaman akan pilihan sekolah ini, but... bukankah sekolah itu ibu...bukan untuk dipilih, tapi lakukan saja yang terbaik, bukan sekolah yang akan membawa kesuksesan untukmu, tapi dirimu sendiri???!!
*) Perjalananku sampai titik ini, kuyakini 100% betul-betul skenario indah dariNya, jadi kalo ada yang menghardik dan mencemoohku, ya...keyakinan dari hati terdalamku, Sang Maha Tahu itu akan turun tangan langsung untuk memberikan penjelasanNya menurut JalanNya yang dikehendakiNya...(Harapku, doaku ya Rabb...)
*) Tugasku adalah menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar