21 Minggu, 147 hari, 3.528 jam
sudah hidup ini rasanya lain. Mencoba membuktikan keimanan, menjalankan rukun
iman yang terakhir, iman terhadap qodo dan qodar, iman terhadap apapun
ketentuannya Allah. Jebule angel, its hard!
Malam ini, mengupas jeruk dan lagi-lagi
mewek tak terbendung. Beribu perasaan itu kembali hadir, tanpa bisa membela
diri. Entah sejak kapan itu, aku ternyata tanpa sadar mengupas jeruk dengan
cara seperti ini. Mellingkar, membentuk spiral panjang.
Melanglang pada sebuah masa,
dibawah sepoi pohon rambutan, gadis kecil berkuncir satu dengan menopang dagu
menunggu jeruk itu selesai dikupas. Sambil mendengarkan cerita kesana kemari,
gadis itu mencermati betapa sang Bapak dengan lihainya mengupas jeruk dengan rapi
dan berbentuk spiral panjang. Pernah sesekali mencoba, tetapi gadis itu tetap
tak bisa lebih rapi.
Gadis kecil itu kembali tersenyum,
saat satu persatu jeruk yang telah dihilangkan isinya itu dilayangkan dengan
penuh canda oleh tangan nan lebar itu ke mulut mungilnya. Mereka tertawa
terbahak-bahak, entah apa yang dibicarakan. Sesekali tangan lebar itu, menggoda
kuncir rambut gadis kecil itu hingga bergoyang-goyang.
Dan malam ini, memandang kulit
jeruk itu dengan pandangan pilu. Berarak kenangan yang tiba-tiba hadir,
bagaimana saat-saat bersamanya, saat bersenda gurau di depan rumah. Dan setiap
akhir pekan dengan pertanyaan, “Ngidul gak? Uti udah masak enak!” Betapa
sederhana harapannya, setiap akhir pekan berkumpul bersama.
Lalu setelah 147 hari berlalu,
rasa itu tetap saja ada. Rasa bersalah yang begitu besar, mengapa saat itu aku
tak menemani di rumah sakit, mengapa kala itu tak jadi dirujuk, mengapa aku
tidak bisa mendampingi disaat-saat akhir. Mengapa, kenapa, seandainya??!!!
Tak semudah mengucapkan bahwa, ya
Allah sudah cukupkan waktu untuk Bapak! Memang sudah takdirnya! Tak semudah
itu!! Itu sulit ferguso!!
Ya, Beribu cara meyakini bahwa
Allah sangat menyayanginya. Bahkan Allah SWT berikan pahala syahid. Allah sudah
merindukannya, di malam jumat yang penuh berkah, bahkan tak lupa berwudhu dan
mengucap dua kalimat syahadat dengan indah. Persis seperti pesannya yang tak pernah lupa,
jangan lupa “Jaga wudhu, ingat Allah
setiap saat setiap waktu. Bersyukur, bahkan ketika kamu di titik paling sulit
sekalipun, karena nikmat Allah sungguh tak terhitung.”
Dan nyatanya, aku sepayah itu! Sampai
detik ini belum bisa kembali ke kamar, tempat dimana aku menghabiskan 17 hari
sendirian, dan juga tempat dimana malam itu aku harus mendapatkan beberapa kali
wa dan telepon dari profil picture berbaju hazmat. Dan luluh lantah duniaku
seketika, dengan jutaan penyesalan yang tak bisa kuungkapkan.
Dari cara mengupas kulit jeruk
ini, semakin sadar bahwa aku hanyalah seorang follower dari Pak Budi Pranoto.
Lalu, tiba-tiba aku oleng begitu saja, saat aku harus melangkah kaki sendiri.
Sebuah pesan jika ada sambungan langsung
jarak jauh dunia akherat:
“Maaf ya Be, Niken masih saja
oleng. Masih mencoba melangkah, pelan-pelan. Belajar dari Ayuna. Oh iya Ayuna
sudah belajar berjalan. Mbak queena juga nggamel lagi, main musik tradisional
lagi. Maaf ndak bisa kirimin videonya, sizenya terlalu besar. Dik Ino, maju lomba
pesta siaga sampai provinsi! Dan Niken, minggu depan UAS. Doain ya kung.”
-love you kung. Allahohumma
firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu-

