Kamis, 17 Juni 2021

Kulit jeruk dan sebuah kenangan

 

Mengupas jeruk ala Bapak

21 Minggu, 147 hari, 3.528 jam sudah hidup ini rasanya lain. Mencoba membuktikan keimanan, menjalankan rukun iman yang terakhir, iman terhadap qodo dan qodar, iman terhadap apapun ketentuannya Allah. Jebule angel, its hard!

Malam ini, mengupas jeruk dan lagi-lagi mewek tak terbendung. Beribu perasaan itu kembali hadir, tanpa bisa membela diri. Entah sejak kapan itu, aku ternyata tanpa sadar mengupas jeruk dengan cara seperti ini. Mellingkar, membentuk spiral panjang.

Melanglang pada sebuah masa, dibawah sepoi pohon rambutan, gadis kecil berkuncir satu dengan menopang dagu menunggu jeruk itu selesai dikupas. Sambil mendengarkan cerita kesana kemari, gadis itu mencermati betapa sang Bapak dengan lihainya mengupas jeruk dengan rapi dan berbentuk spiral panjang. Pernah sesekali mencoba, tetapi gadis itu tetap tak bisa lebih rapi.

Gadis kecil itu kembali tersenyum, saat satu persatu jeruk yang telah dihilangkan isinya itu dilayangkan dengan penuh canda oleh tangan nan lebar itu ke mulut mungilnya. Mereka tertawa terbahak-bahak, entah apa yang dibicarakan. Sesekali tangan lebar itu, menggoda kuncir rambut gadis kecil itu hingga bergoyang-goyang.


Teras rumah dan cerita-ceritanya

Dan malam ini, memandang kulit jeruk itu dengan pandangan pilu. Berarak kenangan yang tiba-tiba hadir, bagaimana saat-saat bersamanya, saat bersenda gurau di depan rumah. Dan setiap akhir pekan dengan pertanyaan, “Ngidul gak? Uti udah masak enak!” Betapa sederhana harapannya, setiap akhir pekan berkumpul bersama.

Lalu setelah 147 hari berlalu, rasa itu tetap saja ada. Rasa bersalah yang begitu besar, mengapa saat itu aku tak menemani di rumah sakit, mengapa kala itu tak jadi dirujuk, mengapa aku tidak bisa mendampingi disaat-saat akhir. Mengapa, kenapa, seandainya??!!!

Tak semudah mengucapkan bahwa, ya Allah sudah cukupkan waktu untuk Bapak! Memang sudah takdirnya! Tak semudah itu!! Itu sulit ferguso!!

Ya, Beribu cara meyakini bahwa Allah sangat menyayanginya. Bahkan Allah SWT berikan pahala syahid. Allah sudah merindukannya, di malam jumat yang penuh berkah, bahkan tak lupa berwudhu dan mengucap dua kalimat syahadat dengan indah.  Persis seperti pesannya yang tak pernah lupa, jangan lupa “Jaga wudhu, ingat Allah setiap saat setiap waktu. Bersyukur, bahkan ketika kamu di titik paling sulit sekalipun, karena nikmat Allah sungguh tak terhitung.”

Dan nyatanya, aku sepayah itu! Sampai detik ini belum bisa kembali ke kamar, tempat dimana aku menghabiskan 17 hari sendirian, dan juga tempat dimana malam itu aku harus mendapatkan beberapa kali wa dan telepon dari profil picture berbaju hazmat. Dan luluh lantah duniaku seketika, dengan jutaan penyesalan yang tak bisa kuungkapkan.

Dari cara mengupas kulit jeruk ini, semakin sadar bahwa aku hanyalah seorang follower dari Pak Budi Pranoto. Lalu, tiba-tiba aku oleng begitu saja, saat aku harus melangkah kaki sendiri.

Sebuah pesan jika ada sambungan langsung jarak jauh dunia akherat:

“Maaf ya Be, Niken masih saja oleng. Masih mencoba melangkah, pelan-pelan. Belajar dari Ayuna. Oh iya Ayuna sudah belajar berjalan. Mbak queena juga nggamel lagi, main musik tradisional lagi. Maaf ndak bisa kirimin videonya, sizenya terlalu besar. Dik Ino, maju lomba pesta siaga sampai provinsi! Dan Niken, minggu depan UAS. Doain ya kung.”

-love you kung. Allahohumma firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu-


Rabu, 21 April 2021

BAPAK...

 


Hari ini 21 April 2021, 3 bulan dari 21 Januari 2021. 

Ketika rindu menyapa, namun raga tak lagi bisa bersua. membingkai seluruh cerita indah itu dalam tulisan. Hanya ini yang bisa kulakukan, selain lantunan doa untuk mengurai rindu yang tak lagi bisa tersampaikan.


Bapak, dalam segala kebaikan yang tertoreh dalam hati. Bapak yang penuh kasih sayang, kesabaran, dan segala sesuatu yang mendamaikan hati. Rasa Bangga yang tak bisa lagi bisa kuucapkan.


Segala sesal yang masih saja menyeruak, bahwa aku masih jauh dari membahagiakan. Berjuta khilaf yang pernah tertoreh di hatinya, yang mungkin sudah ia lupakan, tapi bagiku itu adalah luka yang menganga. Meminta bertubi-tubi pada Allah SWT tuk sampaikan rasa ini, rasa rindu ini, rasa sesal yang tak bisa lagi bertepi. Semoga Allah dengarkan, semoga Allah ampunkan segala khilafku pada Bapak.


Ribuan cerita indah yang tak bisa kuurai satu persatu. Karena semakin mengingat, semakin sesal ini riuh mengaduh. Andai kutahu, hari kamis terakhir itu tak hanya satu dus bakpia, yang bahkan disimpannya untuk dimakan agar tak cepat habis. Andai kutahu, akan kucari pedagang kacang bawang kecil-kecil yang sejak oktober belum bisa kubelikan karena adanya kacang jumbo yang beliau kurang suka.


Andai kutahu…aku tak akan memasang wajah murung saat Bapak selalu mau kemana-mana dengan tim komplit, hingga mobil rasanya seperti tak terasa dingin karena terlalu banyak muatan. Sayangnya aku bodoh sekali saat itu!!


Kini baru kusadari, dua bulan terakhir, menjadi saat dimana tanpa sadar adalah masa latihan untukku. Ya engkau latih aku agar aku tak lagi kaget mencari keberadaanmu ketika pulang kerumah. Bapak yang biasanya sudah menyambutku pulang, dua bulan itu bahkan tak pernah lagi. Bahkan untuk yang terakhir, aku harus mencari di kamar lalu bertubi-tubi mendaratkan ciuman di pipi kanan dan kirinya. Lalu pamit dan pulang. Bapak hanya menatapku datar hanya tersenyum dan sekilas, tak lagi mengantarku sampai depan pintu.


Kini aku tahu, Bapak telah menyelesaikan semua tugasnya. Bapak kembali ke pemilik kehidupan dengan sangat indah, sempurna. Sebuah akhir yang membuat semua orang akan menangis iri, pun diriku. Bapak akan selalu menjadi yang terbaik untukku, Bapak adalah cinta pertamaku yang mengajarkan bagaimana mencintai tanpa harap kembali.


Bapak telah menyerahkanku pada lelaki terbaik menurut versinya. Dan aku tahu, Bapak tak ada kekhawatiran sedikitpun meninggalkanku. Dan aku tak seharusnya menangis. Tapi aku hanya rindu, dan tak tahu lagi bagaimana rasa rindu ini kuluapkan, setelah segenap doa tersampaikan. Tetap saja masih rindu. Aku tahu Bapak inginkan aku menjadi perempuan yang kuat, tapi ijinkan aku menangis sebentar saja ya Pak. Aku rindu, sangat rindu...


Ya Allahku, hanya doa yang mampu kuucap, tempatkanlah Bapak di tempat terindah disisiMu, berikanlah ia kebahagiaan yang jauuuh lebih baik daripada di dunia. Sayangilah ia, rahmatilah ia. Istimewakan ia, sebagaimana pahala syahid sudah engkau berikan kepadanya, sang manusia terpilih. Amiin. 💕