Rabu, 21 April 2021

BAPAK...

 


Hari ini 21 April 2021, 3 bulan dari 21 Januari 2021. 

Ketika rindu menyapa, namun raga tak lagi bisa bersua. membingkai seluruh cerita indah itu dalam tulisan. Hanya ini yang bisa kulakukan, selain lantunan doa untuk mengurai rindu yang tak lagi bisa tersampaikan.


Bapak, dalam segala kebaikan yang tertoreh dalam hati. Bapak yang penuh kasih sayang, kesabaran, dan segala sesuatu yang mendamaikan hati. Rasa Bangga yang tak bisa lagi bisa kuucapkan.


Segala sesal yang masih saja menyeruak, bahwa aku masih jauh dari membahagiakan. Berjuta khilaf yang pernah tertoreh di hatinya, yang mungkin sudah ia lupakan, tapi bagiku itu adalah luka yang menganga. Meminta bertubi-tubi pada Allah SWT tuk sampaikan rasa ini, rasa rindu ini, rasa sesal yang tak bisa lagi bertepi. Semoga Allah dengarkan, semoga Allah ampunkan segala khilafku pada Bapak.


Ribuan cerita indah yang tak bisa kuurai satu persatu. Karena semakin mengingat, semakin sesal ini riuh mengaduh. Andai kutahu, hari kamis terakhir itu tak hanya satu dus bakpia, yang bahkan disimpannya untuk dimakan agar tak cepat habis. Andai kutahu, akan kucari pedagang kacang bawang kecil-kecil yang sejak oktober belum bisa kubelikan karena adanya kacang jumbo yang beliau kurang suka.


Andai kutahu…aku tak akan memasang wajah murung saat Bapak selalu mau kemana-mana dengan tim komplit, hingga mobil rasanya seperti tak terasa dingin karena terlalu banyak muatan. Sayangnya aku bodoh sekali saat itu!!


Kini baru kusadari, dua bulan terakhir, menjadi saat dimana tanpa sadar adalah masa latihan untukku. Ya engkau latih aku agar aku tak lagi kaget mencari keberadaanmu ketika pulang kerumah. Bapak yang biasanya sudah menyambutku pulang, dua bulan itu bahkan tak pernah lagi. Bahkan untuk yang terakhir, aku harus mencari di kamar lalu bertubi-tubi mendaratkan ciuman di pipi kanan dan kirinya. Lalu pamit dan pulang. Bapak hanya menatapku datar hanya tersenyum dan sekilas, tak lagi mengantarku sampai depan pintu.


Kini aku tahu, Bapak telah menyelesaikan semua tugasnya. Bapak kembali ke pemilik kehidupan dengan sangat indah, sempurna. Sebuah akhir yang membuat semua orang akan menangis iri, pun diriku. Bapak akan selalu menjadi yang terbaik untukku, Bapak adalah cinta pertamaku yang mengajarkan bagaimana mencintai tanpa harap kembali.


Bapak telah menyerahkanku pada lelaki terbaik menurut versinya. Dan aku tahu, Bapak tak ada kekhawatiran sedikitpun meninggalkanku. Dan aku tak seharusnya menangis. Tapi aku hanya rindu, dan tak tahu lagi bagaimana rasa rindu ini kuluapkan, setelah segenap doa tersampaikan. Tetap saja masih rindu. Aku tahu Bapak inginkan aku menjadi perempuan yang kuat, tapi ijinkan aku menangis sebentar saja ya Pak. Aku rindu, sangat rindu...


Ya Allahku, hanya doa yang mampu kuucap, tempatkanlah Bapak di tempat terindah disisiMu, berikanlah ia kebahagiaan yang jauuuh lebih baik daripada di dunia. Sayangilah ia, rahmatilah ia. Istimewakan ia, sebagaimana pahala syahid sudah engkau berikan kepadanya, sang manusia terpilih. Amiin. 💕

Tidak ada komentar:

Posting Komentar