Kamis, 17 Juni 2021

Kulit jeruk dan sebuah kenangan

 

Mengupas jeruk ala Bapak

21 Minggu, 147 hari, 3.528 jam sudah hidup ini rasanya lain. Mencoba membuktikan keimanan, menjalankan rukun iman yang terakhir, iman terhadap qodo dan qodar, iman terhadap apapun ketentuannya Allah. Jebule angel, its hard!

Malam ini, mengupas jeruk dan lagi-lagi mewek tak terbendung. Beribu perasaan itu kembali hadir, tanpa bisa membela diri. Entah sejak kapan itu, aku ternyata tanpa sadar mengupas jeruk dengan cara seperti ini. Mellingkar, membentuk spiral panjang.

Melanglang pada sebuah masa, dibawah sepoi pohon rambutan, gadis kecil berkuncir satu dengan menopang dagu menunggu jeruk itu selesai dikupas. Sambil mendengarkan cerita kesana kemari, gadis itu mencermati betapa sang Bapak dengan lihainya mengupas jeruk dengan rapi dan berbentuk spiral panjang. Pernah sesekali mencoba, tetapi gadis itu tetap tak bisa lebih rapi.

Gadis kecil itu kembali tersenyum, saat satu persatu jeruk yang telah dihilangkan isinya itu dilayangkan dengan penuh canda oleh tangan nan lebar itu ke mulut mungilnya. Mereka tertawa terbahak-bahak, entah apa yang dibicarakan. Sesekali tangan lebar itu, menggoda kuncir rambut gadis kecil itu hingga bergoyang-goyang.


Teras rumah dan cerita-ceritanya

Dan malam ini, memandang kulit jeruk itu dengan pandangan pilu. Berarak kenangan yang tiba-tiba hadir, bagaimana saat-saat bersamanya, saat bersenda gurau di depan rumah. Dan setiap akhir pekan dengan pertanyaan, “Ngidul gak? Uti udah masak enak!” Betapa sederhana harapannya, setiap akhir pekan berkumpul bersama.

Lalu setelah 147 hari berlalu, rasa itu tetap saja ada. Rasa bersalah yang begitu besar, mengapa saat itu aku tak menemani di rumah sakit, mengapa kala itu tak jadi dirujuk, mengapa aku tidak bisa mendampingi disaat-saat akhir. Mengapa, kenapa, seandainya??!!!

Tak semudah mengucapkan bahwa, ya Allah sudah cukupkan waktu untuk Bapak! Memang sudah takdirnya! Tak semudah itu!! Itu sulit ferguso!!

Ya, Beribu cara meyakini bahwa Allah sangat menyayanginya. Bahkan Allah SWT berikan pahala syahid. Allah sudah merindukannya, di malam jumat yang penuh berkah, bahkan tak lupa berwudhu dan mengucap dua kalimat syahadat dengan indah.  Persis seperti pesannya yang tak pernah lupa, jangan lupa “Jaga wudhu, ingat Allah setiap saat setiap waktu. Bersyukur, bahkan ketika kamu di titik paling sulit sekalipun, karena nikmat Allah sungguh tak terhitung.”

Dan nyatanya, aku sepayah itu! Sampai detik ini belum bisa kembali ke kamar, tempat dimana aku menghabiskan 17 hari sendirian, dan juga tempat dimana malam itu aku harus mendapatkan beberapa kali wa dan telepon dari profil picture berbaju hazmat. Dan luluh lantah duniaku seketika, dengan jutaan penyesalan yang tak bisa kuungkapkan.

Dari cara mengupas kulit jeruk ini, semakin sadar bahwa aku hanyalah seorang follower dari Pak Budi Pranoto. Lalu, tiba-tiba aku oleng begitu saja, saat aku harus melangkah kaki sendiri.

Sebuah pesan jika ada sambungan langsung jarak jauh dunia akherat:

“Maaf ya Be, Niken masih saja oleng. Masih mencoba melangkah, pelan-pelan. Belajar dari Ayuna. Oh iya Ayuna sudah belajar berjalan. Mbak queena juga nggamel lagi, main musik tradisional lagi. Maaf ndak bisa kirimin videonya, sizenya terlalu besar. Dik Ino, maju lomba pesta siaga sampai provinsi! Dan Niken, minggu depan UAS. Doain ya kung.”

-love you kung. Allahohumma firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu-


Rabu, 21 April 2021

BAPAK...

 


Hari ini 21 April 2021, 3 bulan dari 21 Januari 2021. 

Ketika rindu menyapa, namun raga tak lagi bisa bersua. membingkai seluruh cerita indah itu dalam tulisan. Hanya ini yang bisa kulakukan, selain lantunan doa untuk mengurai rindu yang tak lagi bisa tersampaikan.


Bapak, dalam segala kebaikan yang tertoreh dalam hati. Bapak yang penuh kasih sayang, kesabaran, dan segala sesuatu yang mendamaikan hati. Rasa Bangga yang tak bisa lagi bisa kuucapkan.


Segala sesal yang masih saja menyeruak, bahwa aku masih jauh dari membahagiakan. Berjuta khilaf yang pernah tertoreh di hatinya, yang mungkin sudah ia lupakan, tapi bagiku itu adalah luka yang menganga. Meminta bertubi-tubi pada Allah SWT tuk sampaikan rasa ini, rasa rindu ini, rasa sesal yang tak bisa lagi bertepi. Semoga Allah dengarkan, semoga Allah ampunkan segala khilafku pada Bapak.


Ribuan cerita indah yang tak bisa kuurai satu persatu. Karena semakin mengingat, semakin sesal ini riuh mengaduh. Andai kutahu, hari kamis terakhir itu tak hanya satu dus bakpia, yang bahkan disimpannya untuk dimakan agar tak cepat habis. Andai kutahu, akan kucari pedagang kacang bawang kecil-kecil yang sejak oktober belum bisa kubelikan karena adanya kacang jumbo yang beliau kurang suka.


Andai kutahu…aku tak akan memasang wajah murung saat Bapak selalu mau kemana-mana dengan tim komplit, hingga mobil rasanya seperti tak terasa dingin karena terlalu banyak muatan. Sayangnya aku bodoh sekali saat itu!!


Kini baru kusadari, dua bulan terakhir, menjadi saat dimana tanpa sadar adalah masa latihan untukku. Ya engkau latih aku agar aku tak lagi kaget mencari keberadaanmu ketika pulang kerumah. Bapak yang biasanya sudah menyambutku pulang, dua bulan itu bahkan tak pernah lagi. Bahkan untuk yang terakhir, aku harus mencari di kamar lalu bertubi-tubi mendaratkan ciuman di pipi kanan dan kirinya. Lalu pamit dan pulang. Bapak hanya menatapku datar hanya tersenyum dan sekilas, tak lagi mengantarku sampai depan pintu.


Kini aku tahu, Bapak telah menyelesaikan semua tugasnya. Bapak kembali ke pemilik kehidupan dengan sangat indah, sempurna. Sebuah akhir yang membuat semua orang akan menangis iri, pun diriku. Bapak akan selalu menjadi yang terbaik untukku, Bapak adalah cinta pertamaku yang mengajarkan bagaimana mencintai tanpa harap kembali.


Bapak telah menyerahkanku pada lelaki terbaik menurut versinya. Dan aku tahu, Bapak tak ada kekhawatiran sedikitpun meninggalkanku. Dan aku tak seharusnya menangis. Tapi aku hanya rindu, dan tak tahu lagi bagaimana rasa rindu ini kuluapkan, setelah segenap doa tersampaikan. Tetap saja masih rindu. Aku tahu Bapak inginkan aku menjadi perempuan yang kuat, tapi ijinkan aku menangis sebentar saja ya Pak. Aku rindu, sangat rindu...


Ya Allahku, hanya doa yang mampu kuucap, tempatkanlah Bapak di tempat terindah disisiMu, berikanlah ia kebahagiaan yang jauuuh lebih baik daripada di dunia. Sayangilah ia, rahmatilah ia. Istimewakan ia, sebagaimana pahala syahid sudah engkau berikan kepadanya, sang manusia terpilih. Amiin. 💕

Jumat, 22 Februari 2019

UMROH, MAMPUKAH SAYA?? (tips Umroh dengan budget minimalis)



Foto ini saya ambil di perempatan Demak Ijo
pas ada iklan :)
(maaf ya mas, nomer 3,
cuma keliatan separo hihihi)
Assalamualaikum, kangeeen sama blog ini… Udah lamaa sekali gak nulis. Dikala yang lain udah beralih ke vlog, saya tetep balik kesini aja. Karena saya orangnya gitu, setia (uhukk). Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat, amiiin. Dan menulis adalah hiburan dari segala kehectic-an tugas-tugas yang tak kunjung menepi…dan bingung mau mana yang dikerjakan duluan, maka menulis adalah obat yang jitu.

Yak..gaess he he..pingin nulis sedikit cerita tentang persiapan-persiapan umroh lahir dan batin. Ada cukup banyak  teman-teman yang bertanya tentang perjalanan umroh kami sekeluarga Oktober 2018 lalu. Banyak yang bertanya tentang bironya, tournya, tentang hotelnya. 

Nah, makanya merasa perlu lah menulis ini, selain untuk menjawab beberapa pertanyaan teman-teman yang belum terjawab dan juga sedikit membagikan atau lebih tepatnya menceritakan motivasi diri dan keluarga yang akhirnya Allah SWT mampukan kami sekeluarga sampai kesana. Allah SWT yang memampukan, notes.

Beberapa waktu yang lamaaa..saya dan mas cogan (cowok terganteng serumah) sering ngobrolin tentang ini…ketika rasa itu muncul, pingiiiin banget dan ngerasa emang emang sudah saatnya, memang harus berangkat, sebagai bentuk “kesyukuran”. Kenapa? Ya ngerasa Allah SWT udah ngasih banyak banget nikmat, sehat, dan banyak karunia-karunia yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata…Tapi sering kami pikirkan, rasakan, gimana ya caranya? Mampukah kami??

Nah itu juga sering jadi bahan obrolan sama teman2, ah kami cuma PNS aka ASN yang gajinya seluruh NKRI juga tahu berapa, bisa di googling juga. Belum punya juga usaha sampingan, belum lagi banyak kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, belum lagi anak mau masuk sekolah dsb..dsb..Lalu pertanyaanya haduuuh kapan ya saya bisa umroh?? Mungkin banyak juga temen-temen yang kayak kami, pingiiiin banget tapi…tapii…dan tapi…

Dari pengalaman kami, makanya pingin nulis ini siapa tahu ada yang bisa mengambil manfaat. Menurut saya pribadi yaa…Keinginan untuk datang ke baitullah adalah sebuah panggilan jiwa, ketika rasa itu ada sebenarnya itu sudah sinyal, alarm yang perlu kita dengarkan. Yakin saja, pede saja bahwa Allah SWT telah memanggil kita lewat getaran-getaran hati.. Ya, setidaknya kita tahu bahwa umroh merupakah ibadah sunah muakad yang diwajibkan, ya sunah wajib gitu ya sekali seumur hidup (maaf kalau salah saya mengambil istilah)… Lalu beberapa orang memiliki anggapan bahwa hanya orang-orang yang “mampu” saja yang memiliki “sunah” itu.. Sehingga perlunya saya sedikit cerita bahwa menjadi “mampu” versi saya dan pengalaman saya, syukur-syukur bisa memberi manfaat..

Lalu,  Apakah kita termasuk golongan orang yang mampu? Pernah membaca dari tulisan motivasi, bahwa yang “Allah  SWT lah yang akan memampukan orang-orang yang memang dengan benar-benar ingin berkunjung kerumahNya, yang ingin Berdekatan dengan kekasih Allah SWT baginda Rasululloh. Maka Allah-lah yang akan memampukan kita”. Definisi operasional variabel “memampukan itu seperti apa?”. Atau tetiba dapat undian umroh, yaa itu juga bisa. Atau dapet voucher? Itu juga bisa. Nah saya terlalu sering ngarep dapat begituan. Mungin banyak temannya ya hihihi.

Tapi kalau untuk yang kami rasakan dan lakukan adalah, meletakkan bahwa prioritas utama adalah menabung untuk Umroh, Udah titik.  (eh first priority tetap daftar porsi haji dulu yaa..karena antriannya yang semakin masyaallah). Jadi kita coba kalau memang gak penting, alias masih bisa dipake ya tidak ada hp baru, sepatu, tas (ndak ikut NL dulu hihihi), ndak ada ngecat rumah, ndak ada bebelian kursi lemari atau bebelian yang lain, maka disaat itu kita merasa sudah cukup apa yang kita miliki.  Belum punya kasur 2? biarin. Ruang tamu masih sempit? Biarin. Lemari baju mbak na kekecilan?biarin. Cukuplah setahun menyetop agenda-agenda belanja ndak penting.

Definisi Allah memampukan menurut kesimpulan kami adalah, bagaimana kita merasa cukup dengan apa yang sudah ada, lalu fokus untuk nabung umroh. Sekali lagi pasang baju sendiri yaa, jangan ngukur baju orang lain, kami pasangan PNS mau ngumpulin untuk umroh bertiga itu butuh effort yang luar biasa. Segitunya ya PNS?? iyaaa…apalagi yang merangkak dari staf biasa seperti kami berdua, memulai bersama bergandeng tangan membeli rumah, beli kendaraan yang jaman baheula belum ada remunerasi, sertifikasi, judulnya udah biasa prihatin. begitulah PNS. So, yang mau jadi PNS pikir2 2,3,4,5 kali deh he he. Apalagi nanti kalau nikah dilamar sesama PNS, udah bener2 siap prihatin. Merangkak memulai semua dari 0. Siapkah prihatin?.#wela back to topic, motivasi umroh kok jadi motivasi memilih pasangan hidup. Whahaahhhh.

Insyaallah asal semua kompak, insyaallah bisa terkumpul sesuai dengan target dan planning. Dan ini butuh waktu ya…pokoknya sabar sabar dan sabaar…Pas kayak gitu godaannya juga banyak, eh ndilalah banyak diskon gorden-gorden cantik, ehhh ada apalah apalah…pokoknya tabahkan hati he he.

Nah tinggal selanjutnya adalah memilih memilah biro perjalanan yang sesuai dengan visi misi keluarga dan tentunya budget. Kembali lagi, kuncinya sadar diri, ngukur kemampuan sendiri dan tahu diri  dan ndak usah gampang baper…wakakakka… Kenapa?? Ya sodara-sodara biro perjalanan itu banyaaakkk…mereka menawarkan harga beragam…kalau ndak salah ada sekitar 4-5 biro yang berijin resmi Kemenag di Yogyakarta yang saya hubungi untuk liat-liat programnya…itu sudah kami lakukan T-1 alias 1 tahun sebelumnya.

Yang pertama, jelas pilih yang resmi berijin Kemenag, karena apa??ya jelas safety first lah. Syukur-syukur kalau sudah ada keluarga yang pernah pake biro itu yang bisa cerita owh memang mereka handling dengan baik, that’s better.  

Yang kedua, sesuaikan dengan budget kita. Nah ini kita musti kuat jiwa raga telinga mata dan lain-lain…karenaaaa akan banyak hal-hal yang menguji kadar ke fight an kita,  yang kalau kitanya baper kita jadinya nanti nilai ibadahnya hanya gegara gengsi kan jadi gak sip ye kan…harus nunggu dulu punya 28 juta atau 30 juta hanya karena kemakan omongan orang. Rentang harga 2-3 juta akan kerasa banget kalau yang berangkat sekeluarga, bertiga atau lebih. Mungkin temen-temen pernah atau bahkan sering ngeliat iklan kayak gini di wall FB atau IG ..

“Mau ke Baitullah, kerumah Allah kok pake yang murah-murah”
“Berikan yang terbaik untuk Allah STW, karena Allah SWT akan menggantinya lebih banyak lagi”

Woles aja tsayyy. Kita ngumpulin uang seberapa kemampuan kita, itu udah luar biasa. Allah SWT maha tahu kan…Yang iklan kek gitu malah yang gak baik ye kan..bikin panas hati orang yang niatnya ibadah tapi uangnya pas-pasan he he he..tapi sekali lagi kuatkan hati, teguhkan niat he he..

Kembali soal pilih biro, kalau uang kita masih dibawah 25 juta ya gak usahlah datengin biro yang nawarin harga lebih dari itu. Pediiih…Kita Bandingin aja biro yang jual produk dengan harga setara, kita lihat plus and minusnya. Yang musti kita pastiin adalah Jadwal keberangkatan, hotel, pesawat, ustadz pendampingnya. Ya ini yang harus kita sesuaikan dengan visi misi keluarga. Di Jogja ada beberapa tour yang pada bulan Oktober kemarin menawarkan harga seimbang sekitar 21,5 juta-23,5 juta full lengkap dengan handling bagasi dengan paket kamar ber-4. Kalau mau upgrade sekamar ber-tiga seperti kami biasanya harus menambah @1 juta. Harga ini biasanya naik sekitar 2-3 juta pada saat liburan sekolah sekitar bulan Desember. 

Tournya apa aja yang menyediakan harga segitu di Jogja, ada beberapa yang saya udah coba Tanya-tanya ada Permata Umat, Nabawi Mulia Tour dan Zhafirah. Beberapa orang yang udah pake biro tersebut katanya oke punya. Kalau dari Jakarta dengan biaya segitu sudah mendapat fasilitas lebih oke, tapi karena kita start dari Jogja memang harga segitu sudah yang paling ekonomis.

Soal pesawat, dengan budget dibawah 25 juta dari Jogja jangan berharap kita akan naik Garuda atau sejenisnya. Kita akan bersiap dengan pesawat Singa atau pesawat ijo adiknya GA atau kalau bironya dapet promo ya bejo dapat maskapainya punya raja Arab. Niatnya kan mau ibadah ya, jadi harus kuat hati untuk  menjawab beberapa jenis pertanyaan berikut:

Pesawatnya apa??Hah, sampe Arab naik itu..apa gak capek??
Pesawatnya apa?? Ndak takut naik itu??
Pesawatnya apa?? Oh ada to pesawat itu sampe sana??

Sekali lagi keep calm saja, teguhkan niat....gak usah dijawab, disenyumin aja…Untuk pesawat ya, tips dari saya number one adalah memang harus pilih safety first dan yang nyaman di hati. Biasanya biro punya beberapa pilihan paket umroh sudah langsung keliatan paket pesawatya. Misalnya nih kalau dari Jogja biasanya ditawarkan Solo-Madinah by maskapai Lion. Atau by citilink Jogja-Jakarta-Jedah, atau by silk dan jogja-singapur biasanya pakai Air asia. 

Jujur sebenarnya awalnya kami prefer yang transit KL atau singapur, lalu kita extend disana semalam begitu..tapi karena ini pengalaman pertama kali buat kami dengan long family trip, maka rencana itu kami skip dulu. Ya, kami pilih yang connecting dari Jogja pulang Jogja lagi. Dari beberapa pilihan penerbangan itu bisa ditimbang-timbang yang nyaman buat kita sekeluarga. Kalau kami, sekali lagi pertimbangan kami, kalau mau landing madinah prefer pesawat yang besar dan oke, semacam GA, atau Saudi. 

Jadi pilihan Solo Madinah by selain itu kami eksklude. Gak masuk pilihan. Kenapa??Dari beberapa penelusuran pengalaman, rute madinah ada daerah dimana gitu goyangannya terasa banget, jadi kalau pesawat besar it doesn’t matter, tapi kalau pesawat kecil, menurut kami bakal kurang nyaman.  Sekali lagi ini pertimbangan kami sekeluarga saja sih, dan kami juga belum pernah membuktikan, jadi masih hanya dengerin info sana sini aja...Tapi, kalau landing Jedah juga butuh 5 jam perjalanan darat menuju madinah, itupun kami juga pertimbangkan. Tapi dari beberapa pengalaman para senior, perjalanan jedah madinah itu sangaaat nyaman, jalan besar, gak macet, dan banyak unta di sepanjang jalan, dan ini selain beribadah juga family trip kami, yang jelas mbak queena bakal suka. So, kemarin kita putuskan pilih yang landing jedah.   

Untuk pesawat kelas ekonomi ini, sekali lagi…kita musti pilih yang paling bikin hati kita nyaman. Kalau kita gak nyaman bakal bikin trip gak asyik kan. Kalau soal makanan, capek, hiburannya apa…menurut saya sih gak beda-beda banget. Sebagai contoh, saya pernah naik pesawat 14 jam direct flight dengan maskapai keren, kelas Ekonomi. Man teman, di kelas ekonomi mau pake maskapai apa aja, sama ajaah..kecuali di upgrade ke bisnis laah beda cerita. Don’t worry be happy everybody, namanya naik Ekonomi ya kakinya tetep mentok didepannya gak bisa selonjoran kayak di bisnis. 

Soal makanan?? Perjalanan malam biasanya lebih enak buat tidur, mau dikasih maem kayak apa saja kalau saya mending buat tidur. Soal hiburan, tipi didepan kursi, ya sekali lagi kalau saya enak buat tidur sih kalau perjalanan panjang, kalau capek tidur, ya nyender sama cogan disebelah kan..ngobrol manjaah gitu…Masyaallah enaknya…

Untuk pesawat, tips kami yang penting nyaman di hati itu aja dan kita sesuaikan dengan family trip kita. Jadi kemarin pilihan kami adalah connecting flight Jogja-Jakarta-Jedah, dan sebaliknya untuk pulang, by citilink. Alhamdulillah nyaman, softlanding, makan 2x, bisa bikin mie, sekoteng, dll (bawaan dari rumah xixixi), crew caring banget, cantik, ganteng he he). Meskipun the next kami pingin mencoba pesawat besar dengan meeting point KL atau singapura, ini sudah mulai kita searching-searching dari sekarang, meskipun entah kapan nanti Allah SWT izinkan kami kesana lagi, tapi rindu baitullah itu ternyata berat, huhuhuh

Soal hotel. Biasanya pada ditanya gini, hotelnya jaraknya berapa? Di madinah di gate berapa? Deket gate 25 nggak? Di Mekkah di bawah Zam-zam tower atau bukan?? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kita anggap angin lalu dan butiran debu ajah. Yang mesti kita ingat, kita kesana buat ke MASJID. Bukan ke HOTEL. Dan bahkan setiap langkah ke masjid juga bernilai ibadah kan. Biar kuat hati, niat kita beribadah. Ini nampaknya jawaban ngeles…ya iyalah..sekali lagi pasang baju sendiri, ukur kemampuan sendiri…

Kalau di Madinah di masjid Nabawi kenapa Gate 25 jadi primadona karena Taman Syurganya Allah/Rawdah dengan pintu masuk di  gate 25 untuk akhwat dan gate 24 untuk ikhwan. Jadi disana itu padeeeet sekali, yang ke masjid nabawi siapa yang tidak suka berlama-lama di Rawda, pasti semua pingin. Tapi, itu juga dibukanya jam-jam tertentu. Dannn..jarak dari gate 1 ke gate yang lain itu gak jauh, jadi missal kita di gate 15 pun itu masih sangat terjangkau. Jadi kalaupun dari hotel kalian itu nembusnya di gate 15 an itu malah nyaman banget buat sholat  waktu, gak rame banget. Kecuali di gate 5 atau 6 lha kalau itu perlu lah dipertimbangkan, karena mau ke rawda lumayan gemrobyos itu. 

Dan fyi, hotel di madinah itu semua deket sama hotel nabawi. Serius..paling jauh Cuma 100 meteran, keluar hotel udah keliatan plataran masjidnya kok. Cuma beda di pintu/gate masuknya aja. Dan hotelnya, dengan standar bintang 3 saja udah bersiiiih, baguuus banget, kamarnya queena malah full bath up full servis makanan yang berlimpah ruah. Jadi kalau menurut saya di Madinah mau fasilitas bintang 3 juga udah okeee banget.

Sedikit perbedaan ketika kita sampai Arab, ya..hotel bintang 3 biasanya berlokasi sedikit lebih jauh, bisa 2 kali lipat dari Madinah, ya sekitar 300-400 meter dari plataran masjidil haram, dan teksturnya memang naik-naik. Ya tekstur tanah Arab memang bebatuan begitu. Kalau budgetnya dibawah 25 juta, lewat hotel di zam-zam tower ya dadah dadah aja, atau kalau kepo ya sesekali masuklah, beli roti seven di Bin Dawood, biar gak penasaran lagi isi zam zam tower itu kayak apa he he. Kalau ada yang komen, jauuh ndak hotelnya, di zam zam tower? Percayalah itu bukan pertanyaan, tapi sebuah kejulidan semata, so ndak usah dijawab. Tapi orang-orang yang baik gak bakal nanya kayak gitu kok. 

Sangat perlu memastikan hotel juga, karena dengan low cost takutnya hotelnya too far. Kalau terlalu jauh ya musti kita pertimbangkan. Jadi menurut pengalaman kami, kalau di madinah berjarak 100-200 meter dan di masjidil haram berjarak 400 meter itu masih logis, kalau lebih dari itu ndak deh..karena gak mampu lagi dijangkau dengan jalan kaki. Kami kemarin merasa jalan kaki kami gak terlalu jauh, meskipun kita arrange sebelum wkatu sholat udah harus jalan dari hotel, santaiii, asyik lah jalan-jalan ramai-ramai bertiga, sambil ngobrol, lirik-lirik jualan es krim dan juga sambil menikmati pemandangan sepanjang perjalanan yang masyaaallah indahnya. Kalau ibadah haji memang nanti katanya lebih jauh tapi biasanya ada bis untuk mengangkut jamaah.

Jadi kalau soal hotel, tips kami pastikan di madinah ya gatenya sekitar 16-25 itu masih terjangkau. Kalau di Mekkah, asal tidak lebih dari 500 meter masih sangat terjangkau.

Nah meskipun umrah dengan budget minimalis, tetapi ada banyak juga biro yang tetap memberi ustadz pendamping yang memang paham dan berpengalaman... Ya, kita mesti Tanya juga siapa nanti ustadz pembimbingnya, yang kalau bisa sesuai dengan visi misi keluarga kita, syukur-syukur kalau kita kenal, setidaknya bisa di googling dulu lah beliau itu seperti apa. Karena apa?? Pengalaman kami yang minim ilmu ini, momen umroh sekalian sebagai perjalanan menuntut ilmu, diskusi khususnya permasalahan tentang sunah-sunah umroh dan ibadah-ibadah yang lain.

Misalnya bagaimana adab ketika di rawda?apakah harus mencium hajar Aswad, bagaimana hukumnya? Kalau haid bagaimana? Bolehkah mengambil umroh 2x selama 1 kali safar?

Nah, Alhamdulillah kami mendapat ustadz pembimbingnya adalah Ustadz Ulin Nuha, beliau hafidz yang juga lulusan Madinah yang sudah berkali-kali mendampingi jamaah. Jadi Alhamdulillah ilmu beliau luar biasa, banyak hal-hal yang bisa kami diskusikan dengan beliau. Sedikit berbagi apa yang beliau sampaikan kepada kami ya…semoga bermanfaat..
Ketika di Rawda, dalam beribadah janganlah sampai melakukan Dzalim kepada sesama muslim. Bersabar dan bersabar. Berdoa menghadap kiblat, meskipun di sebelah adalah makamnya Baginda Rasululloh, berdoa tetaplah menghadap kiblat.

Sama halnya dengan mencium hajar aswad, prinsipnya beribadah jangan sampai berbuat Dzalim, ketika bisa tanpa Dzalim Alhamdulillah, tetapi apabila berisiko melakukan kedzoliman kepada sesama muslim sebaiknya tidak. Bisa melaksanakan ibadah sunah yang lain.

Bagaimana seandainya tetiba disana mendapat haid?? (jujur itu yang menjadi salah satu beban yang kami pikirkan, hanya bisa berdoa pada Allah SWT yang maha mengatur jadwal haid he he pasrah), dan juga pertanyaan kami tentang melaksanakan lebih dari 1 kali umroh dalam 1 perjalanan.

Beliau menjelaskan dengan sangat detil. Beliau menceritakan kisahnya Aisyah RA yang berumrah namun beliau saat itu tepat berhalangan, maka Aisyah RA tertinggal dari yang lain dan baru melaksanakan rangkaian umrah ketika telah selesai dari haid. Waktu itu Rasululloh SAW meminta sesorang dari rombongan yang telah berumroh ini untuk menemani Aisyah RA untuk berumroh dimulai dari mengambil miqat/niat dan menemani hingga akhir, tetapi sahabat ini tidak ikut mengambil miqat dan hanya menemani Aisyah RA. Bagaimana jika sampai akhir haid tidak berhenti, maka hukumnya adalah darurat, tidak mengapa sebelum pulang menyelesaikan perjalanan Umrahnya.

Rosululloh SAW selalu melaksanakan umrah 1 kali setiap perjalanan beliau, begitu kata ustadz kami. Lebih utama 1 kali berumrah dalam 1 kali safar seperti yang dicontohkan Rosululloh SAW.  Lebih utama melaksanakan thawaf sunnah. Ini sedikit penjelasan penjelasan beliau. Beliau juga menjelaskan tentang jejak-jejak ibadah haji, yang insyaallah sangat bermanfaat ketika Allah SWT izinkan kami untuk menunaikannya suatu saat nanti, amiin. (Jika synopsis penjelasan ustadz kami tidak sepenuhnya tepat, itu sungguh karena keterbatasan saya menangkap cerita beliau…).

Menurut saya, betapa pentingnya ustadz pendamping betul-betul memahami ilmunya agar kita lebih nyaman. Disana juga ada muthawif yang juga akan melengkapi ilmu-ilmu kami yang masih sangat dangkal.

Jadi kemarin kami menggunakan Tour Permata Umat, yang kebetulan bekerja sama dengan PDM Magelang dan kebetulan Kakung dan Uti mbak na sudah pernah menggunakan biro tersebut. Daaan…Alhamdulillah mbak queena mendapat rejeki anak sholikhah, ceritanya uti mendapat voucher diskon 50% dari permata umat saat silaturahim akbar alumni umrah permata umat. Dan diberikan kepada mbak queena (matur nuwun sanget uti).. percaya kan, Allah SWT yang akan memampukan keberangkatan kita???

Yang perlu kita siapkan lagi adalah biaya pengurusan paspor (sekitar 350 ribu per orang), imunisasi vaksin meningitis (sekitar 300an ribu per orang), dan belanja keperluan misalnya gamis, jilbab dan persiapan lain serta uang saku selama disana.

Pada prinsipnya, umroh dengan budget minimalis, dari persiapan, pelaksanaan harus semua memahami dan saling bahu membahu. Kompak mengencangkan ikat pinggang, semua serumah. Dan ada 1 bendahara eh bundahara yang harus super kejam menjaga pintu-pintu ATM whahahah. Sekali lagi, perjalanan dengan budget minimalis harus kompak.

Selain persiapan keuangan, persiapan mental dan midset harus juga dibentuk dari awal. Jangan ngarep dengan bayar dibawah 25juta kita mindset kita ala ala first class. Alhamdulillah, kebetulan keluarga kami sudah terbiasa backpackeran kemana-kemana, kami setting dari mbak na kecil dia pergi-pergi sudah handling tas sendiri, jadi dia anak mandiri untuk urusan packing2 dan anaknya ndak manja, ndak pernah nuntut harus ini harus itu. Bahkan karena ini perjalanan kelompok besar, harus bagaimana antri, apalagi sama simbah-simbah sepuh, mbak na sangat enjoy, gak canggung mbawain tasnya simbah-simbah pas mau naik escalator. Mindset it the most!

The next chapter, akan saya ceritakan serunya Umrah dan family trip kami… Sebagai gambaran yang akan mengajak umrah para kiddosnya apalagi yang anaknya super kepo seperti mbak queena, yang rasanya ndak cukup waktu 10 hari PP untuk eksplore madinah al munawarah dan makkah al mukaromah. Semoga ada kesempatan lagi kita untuk kesana ya temans…amiiin amiin ya Robbal alamiin… Kedepan, Bismillah, semoga Allah mudahkan, kami masih punya mimpi, ingin mencoba umrah dengan meng-arrange semua sendiri, karena kami memang seneng family trip dengan hemat dan mandiri. (ha ha ha bilang aja duitnya mepet). Kalau mimpi ini come true, insyaallah besok juga ada tips and trik umroh mandiri he he...

Kerinduan itu mahal, dan kadang saking rindunya, jadi kurang pinter pilih-pilih...ada yang membayar mahal padahal fasilitasnya sama, atau justru dapet murah banget tapi abal2 dan na'udzubillah malah akhirnya ditipu..aduh jangan sampai ya...

Yang sudah pingin tapi uang  belum bisa ngumpul-ngumpul dan merasaa masih ada aja kebutuhan-kebutuhan yang musti dipenuhi, monggo bisa dicoba tips kami. Semoga Allah SWT mudahkan semuanya Semoga tulisan ini bermanfaat..

Next chapter: Tips and trip Umroh sama kiddos (insyaallah)..
tunggu ya..
*apakah tulisan ini mengandung unsur promo biro perjalanan umroh, BIG NO. Monggo silahkan memilih dan memilah ya. Saya bukan agen biro perjalanan dan insyaallah saya lebih seneng bagi info-info kayak gini aja :)

Wassalamualaikum…


Rabu, 07 Juni 2017

KITA DAN GLAUKOMA


Antara aku dan kamu pasti ada dia. Ya, dia “HARUS” ada diantara kita berdua! Dialah “TIMOL”. Tetes mata yang tak boleh ketinggalan kemanapun kita pergi. Yupp..harapku, ketika kita menua nanti, kita kan selalu bergandengan tangan, tapi bukan karena ada yang mencuri penglihatan kita. Meskipun sang pencuri itu mengintai dekaaat sekali.

Ya dia glaucoma. Kata dokter mata, itu sang pencuri penglihatan. Kenapa dikatakan pencuri?ya, kata dokter mata mayoritas pasien glaucoma tidak merasakan gelaja apapun, nyeri, sakit atau apapun itu, benar-benar tanpa gejala. 

Sama seperti pencuri, gak ada pencuri yang ngaku kalau mau mencuri..dia gak bakal datang terang-terangan. Kalau itu namanya perampok ya..kembali ke glaucoma..apa itu glaucoma?? 

Banyak artikel tentang glaucoma, bisa di browsing ya..atau bisa ditanyakan langsung ke dokter mata terdekat. Yang saya tahu, glaucoma itu adanya kerusakan syaraf-syaraf mata yang disebabkan karena tingginya tekanan bola mata atau tekanan intra ocular. *Mohon maaf kalau kurang tepat

Jadi lambat laun, si penderita akan kehilangan penglihatan karena rusaknya syaraf-syaraf matanya. Notes: itu kalau gak ketahuan dan tidak ditangani. Insyaallah akan berbeda kalau diihtiari, diupayakan. 

Seperti kita berdua, saling mengingatkan, saling membawakan tetes mata, romantic gitu deh pokoknya! Sampe-sampe kalau periksa dan ketemu dokter mata baru (bukan dokter mata yang biasanya), pasti dikomenin..”kok bisa ya..padahal bukan sodara kan ya?” *iya dok, bukan saudara, tapi kami memang ditakdirkan untuk saling melengkapi, menemani dan mencintai. Bukankah cinta sejati akan selalu menemukan jalannya untuk kembali #eaaaaa. Opo ikiii hehe he

Boleh saja orang berpendapat bahwa orang sakit itu karena adzab karena perilaku hidupnya, atau karena kurang sedekahnya, atau whatever. 

Biarkan saja ya… tapi sejauh ini kita saling mengingat ingat kenakalan-kenakalan jaman dulu…kayaknya fix.. kita berdua gak pernah ngintipin orang mandi, atau ngintip daleman temen pake rautan ditaruh di kaki, atau nyontek pas ujian jaman sekolah dulu. Sweaar… Jadi gak perlu kita risaukan omongan orang ya.. Tapi tapi…tak ingat-ingat pernah sihh ngintip-ngintip..sekali..dua kali..ehh maaf berkali-kali ding..iya itu ngintipin wajah gantengnya mas Arka ehh mas Eros “Giorgino Abraham”.(*kamu siiih…gantengnya terlalu maksimal xixixixi). Tapi Alhamdulillah ngintip yang ini diizinin kok sama si hunny bunny. *pakai maksa sih hihihi. 

Yuup, kata dokter mata, glaucoma secara teori sebagian besar disebabkan karena keturunan, alias genetic. Kita seriiiing banget denger simbah-simbah semakin sepuh kadang menurun penglihatannya tapi mungkin saja selama ini, itu dibilang normally. Panggilan alam. 

Tapi sebenarnya kalau diperiksa dengan seksama mungkin saja itu glaucoma. Karena penderita glaucoma di Indonesia cukup tinggi. Ya karena gak ada gejala gak ada nyeri-nyeri, sakit ini itu..tiba tiba simbah gak bisa mresasni

Jadi kayaknya jarang orang yang dengan sadar hati buat datang ke dokter mata untuk periksa mata. Belekan saja, walau sampe gak bisa buka mata di tiap pagi hari, kayaknya lebih seneng didulet-dulet pakai idu daripada ke dokter mata. Hayoo ngaku sapa yang waktu kecil belekan kayak gitu..

Sama dengan saya, saya waktu itu juga konangan glaucoma-nya juga karena keberuntungan belaka. 14 tahun yang lalu mas saya pas ambil spesialis mata, mata saya dicek-cek gitu trus si mas ngendiko suruh cek up, tekanan bola mata saya waktu itu kanan kiri sekitar 27 sama 28 (lupa sih tepatnya, tapi pokoknya diatas angka 25). 

Ya, tekanan bola mata normalnya dibawah angka 20. Sayang seribu sayang, si hunny bunny tersayang yang dengan setia selalu mengantar control periksa, dan saya gak pernah ngeh untuk ngajak periksa...ehh suatu saat mau ganti kaca mata sekalian dicek…..ternyata kita memang senasib…si tercintaah tekanan bola matanya juga tinggi. Ya sutraaalah…mari kita eratkan genggaman tangan kita sayang. Bukankah cinta itu ada untuk saling menerima segala kekurangan. Semoga kita bisa melaluinya..amiin

Lalu gimana cara melihat glaucoma kita masih dalam tahap baik..ya setiap 6 bulan sekali, pasien glaucoma diwajibkan untuk dilakukan pemeriksaan lapang pandang. 

Pemeriksaan lapang pandang dilakukan diruangan gelap, kita duduk dan menghadap pada alat yang persis seperti payung dibuka menghadap kedepan kita. Dokter dari belakang sana akan ngasih lampu kecil-kecil gitu, kalau kita bisa liat kita pencet tombol yang kita pegang. Lampu-lampu itu dari besar ke kecil. Ya kayak mendeteksi bintang-bintang di langit yang biru gitu laah. Kita gak boleh lirik kanan kiri, apalagi tengok belakang. Harus focus menatap kedepan.  *Ya seperti kita tak boleh lagi menengok-nengok timeline atau instastory-nya mas/mbak mantan yaa..mending liat instastory-nya mas giorgino abraham dan mbak irish bella aja yaa… 

Ya, pemeriksaan lapang pandang untuk melihat kemampuan melihat kita wabil khusus di area pinggir-pinggir itu, karena penderita glaucoma biasanya akan kehilangan penglihatan dari bagian samping kedepan..jadi seperti pakai kacamata kuda…biar gak sampe seperti itu maka harus rutin dicek lapang pandang ini. 

Pemeriksaan lain adalah pemeriksaan foto fundus mata atau kalau tidak salah namanya OCT. Saya kurang paham pemeriksaan ini untuk apa, tapi hasil OCT ini bisa diprint dan nanti dilihat hasilnya sama dokter. 

Pemeriksaan ini gampang-gampang susah, cukuplah kita tidak kedip 1 menit eh lebih ding, lalu cekrek-cekrek gitu. Saya selalu bisa optimal di pemeriksaan ini, bisa ngampet tidak berkedip..sementara si hunny bunny tidak seteguh saya dalam pemeriksaan OCT ini.  *Padahal aslinya beliau lebih teguh, dalam perjuangan mendapatkan cinta saya. Oposeeeeh J

Last but not least, tetes mata sepanjang hayat tidak boleh ditawar. Setelah rutin tetes mata Alhamdulillah TIO saya sudah tidak pernah lebih dari angka 20. Demikian juga TIO si ganteng. PR kami, adalah selalu cek up dan tentunya mengajak si gadis kecil pualam hati kami. 

Secara takdir menggariskan emak bapaknya begini, ya sudahlah..dari umur 5 tahun si cantik udah familiar dengan apa itu mengukur tekanan bola mata, apa itu lapang pandang, apa itu OCT dan selalu mengingatkan emak bapaknya buat tetes mata. (Di Sardjito tahun 2019 ini alatnya baru, gak terlalu lama harus menahan melek, demikian juga alat untuk periksa lapang pandangnya, meskipun gerakannya jadi lebih cepet).

Si cantik juga udah dibawa ke spesialis mata anak, dan sampe sekarang tiap 6 bulanan udah cantik duduk didepan alat periksa TIO dan jebret jebret jebret dia udah terbiasa dan gak pake kaget-kaget lagi. 

Maafkeun ayah bunda yang sementara jelas-jelas menurunkan genetika kurang oke di urusan mata, tapi tak apa nak..Allah SWT bukankah menjanjikan bersama kesulitan ada kemudahan..bahkan kemudahan disebut tiga kali. Insyaallah Allah SWT akan memberikan kemudahan dalam hidupmu berlipat-lipat nak. Yakinlah! Doa ayah bunda selalu untukmu.

So, seperti instruksi presiden dalam gerakan masyarakat (Germas) diantaranya kita musti rutin memeriksakan diri. Gigi 6 bulan sekali dibersihin yak, 2 tahun sekali cek up mata lah..meskipun kalau liat mas Hyunbin masih ganteng bukan berarti mata kita gak perlu dicek. Ibu-ibu juga periksa pap smear setahun sekali (waduuh saya juga udah 2 tahun ini gak periksa he he), jangan lupa periksa payudara sendiri tiap habis menstruasi.

*stay strong wahai glaukomers 😄

  




Minggu, 12 Maret 2017

Cerita yang tertunda (Part 2)

beloved friends, left to right:  Me (Indonesia), Lisa (Nepal), Yulia (Indonesia)
Jamal (Yaman), Sammy (Kenya)
Hari ini, setahun yang lalu..12 Maret 2016, merupakan salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupa sepanjang hidup. Salah satu mimpi kecil saya, tertapaki… Hari ini, setahun yang lalu..nama saya tertera dalam tiket penerbangan Internasional dengan rute JOG (Yogyakarta) – AMS (Amsterdam). Bismillahi tawwakaltu ‘alallah.

Meskipun Tidak mudah menuliskan kembali cerita itu. Jujur!! Bukankah bahagia? Satu mimpi besar itu datang...sesuai dengan doa yang dipintakan? Ya... Tapi ada juga satu lagi pelajaran hidup untuk saya. Dalam kebahagiaan ada juga “ujian”. Dalam “ujian” pasti diselipkan kebahagiaan. Ya..bagaimana kita harus pandai-pandai mengatur hati untuk selalu bersyukur dengan semua ketetapanNya.

Tepatnya beberapa setelah e-mail pemberitahuan bahwa akhirnya saya mendapat beasiswa itu, dapat juga kabar bahwa suami harus menjalani diklatpim III selama 3 bulan. Dengan waktu yang hampir bersamaan, tepatnya beririsan. Apa yang langsung terpikir saat itu? Ya bagaimana mbak Na?? Ayah bundanya harus pergi dengan waktu bersamaan?? Jujur itu cukup berat khususnya untuk saya. Alhamdulillah mbak Na tidak mempersalahkan hal itu dan bahkan ia sudah memikirkan solusi yang benar-benar bisa membuat bundanya lega..bahkan lega sekali. “Mbak Na bobok di tempat uti aja”. Statemen-nya diamini oleh uti dan kakungnya. Well, masalah selesai.

Tapi kiranya Allah SWT inginkan kami lebih tangguh lagi. 2 hari sepulang mengurus Visa Schengen, tepatnya hari Jumat 19 Februari 2016, uti kecelakaan. Fraktur di kaki kanan uti, total berjumlah 5 titik. Uti harus operasi, bedrest, dan tentunya butuh perawatan. Menitipkan mbak Na dengan uti yang kondisinya seperti itu, hanya berharap pada Allah Taala agar mbak Na bisa mandiri, ceria dan bahkan saya menitipkan pada mbak Na untuk merawat uti. Dunia terbalik. Kemarin saya yang menitipkan mbak Na ke uti, gantian saya yang bilang ke mbak Na “pasrah uti ya nak”. (Bunda tahu kamu anak hebat, anak yang selalu bisa membuat ayah dan bunda bangga padamu).

Tibalah saatnya berangkat, dengan segala kegundahan hati. Kalau bukan Bapak yang berkali kali mengingatkan ini jihad...jihad!! jihad itu tidak mudah. Menuntut ilmu itu wajib hukumnya, lakukan sebaik-baiknya. Apapun yang akan terjadi dirumah selama kamu pergi, apapun itu kamu harus ikhlas. Apapun kesulitan yang akan kamu temui disana, itu nilainya pahala. Bismillah, berangkatlah dengan hati yang ihklas. Pasrahkan semua pada Allah SWT. Begitu kira-kira pesan Bapak yang begitu menguatkan saya.

12 Maret 2016. Dalam ujung titik kepasrahan dan kegundahan, ternyata doa adalah kekuatan yang tak terhingga. Setidaknya itu pengalaman saya. Betapa tidak, dalam hidup saya, ini adalah perjalanan terlama saya, dalam tiket tertera penerbangan 17 jam. Jujur saya tidak tahu harus bagaimana, harus ngapain. Takut, grogi,campur campur.  Well ndremimil..apa yang saya ndremimilkan?? Hanya berseru dalam hati, hanya memanggil Allah taala disaat merasa deg-degan dan hanya berbisik, tolong saya..bantu saya ya Rabb...cek imigrasi done, bahkan ini cek imigrasi tercepat dan tersantai dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang pasti selalu antri...masuklah gate Soetta menuju Amsterdam. Mulailah clingak clinguk. Kenapa ini bule semua?? Pasang mata, mana orang Indonesia??

Di detik detik akhir menuju keberangkatan, tiba-tiba ujug-ujug ada mbak-mbak pake jilbab berkaos lorek2 duduk disamping saya, Nyess..padahal kenalan juga belum tapi setidaknya bisa membuat saya “nyaman”. Panggilan masuk pesawat. Yup..antri...masuklah ke Garuda Indonesia yang siap membawa saya dalam perjalanan jauh ini. Amsterdam!! Pas masuk, ya..agak kaget sih..baru kali ini naik pesawat dengan model 3 seat, untungnya mbak pramugarinya baik hati untuk mengarahkan saya harus mengambil jalur yang lebih dekat. Done..ketemu seatnya. Sesuai request saya milih yang pinggir luar. Yup..karena kaki saya panjang, sesuai nasehat adik saya yang bernasib kaki panjang jugak dan lebih senior dalam penerbangan internasional.  Beberapa menit setelah duduk manis, dan kursi-kursi lain mulai diisi bule bule, deratan kursi saya masih kosong aja. Deg-degan...menunggu siapakah teman duduk saya dari ratusan penumpang tadi. Tiba-tiba jreeenggg...mbak berkaos loreng tadi menghampiri barisan tempat duduk saya, dan ia permisi untuk masuk. Whaatt??dia??#Plooong. Pesawat udah mau berangkat aja, berarti kami Cuma berduaa??? Coba apa itu namanya??berkah??rejeki??keajaiban?? Yup..namanya DITY. Dia mahasiswa S2 di Delft Belanda, orangnya cantik, pinter plusss baiiiiik. Tentunya dia yang selama perjalanan berangkat menjadi guide saya, dari mulai ternyata transit di singapura, saya harus ngapain, DITY lah satu dari “malaikat” yang Allah SWT kirimkan untuk saya dalam perjalanan 17 jam menuju benua biru. Bahkan tak sampai disitu DITY memastikan saya bertemu dengan “malaikat” lain yang sudah siap menunggu saja di Amsterdam Schipol. Bersyukur. Terima kasih DITY untuk semuanya.
Me and Dity
Pahlawan lainnya namanya RISKA. Dia adalah Master Student di KIT. Kita kenalan via email dan dengan besar hati ia mau menjemput saya dan mengantarkan saya menuju hotel. Bawa koper segambreng, dialah RISKA yang dengan senyum renyahnya setia menemani Mbakyu barunya yang ndeso ini puter2 Amsterdam di hari pertama itu. Mungkin karena kita sama-sama berlatar belakang Bidan ya...jadi udah ngerasa deket aja. Makasih RISKA untuk semuanyaaa.
Me and Riska
Yup akhirnya mendarat juga di The STUDENT HOTEL Wibaustraat setelah sebelumnya pakai acara salah lokasi hotel segala. Daaann akhirnya bertemulaah sama EMAK tercinta.. Beliau dari Makassar. Jadilah kami duo macan dari Indonesia. Dan bersama EMAK Yulia, kami berpetualang indah...sangaat indah..iya kan mak...Love you deh mak..semoga kapan2 kita bisa jalan2 bareng lagi yaaa…
with my Lovely Emak di trem


Jamal  Sammy, Lisa, Emak and Me. 
And they are my new friends..and wish be best friends forever. SAMMY, he is smart and kindheart from Kenya. JAMAL, funny man from YAMAN, LISA SOTI beautiful, kindheart from NEPAL. And also SUNIL from NEPAL. Yeaaah we just like a new family. We take care each other. Go arround together and a lot of beautiful moment of us, as long 3 weeks together. And we also meet the great friends from whole the world from master student of KIT. Such As Ella medical doctor and Andy from Indonesia. Sylvia from Nigeria. Winnie from Thailand, Radhika from Nepal and many more. Maaf kalau belepotan, mereka suka ikut baca blog ini..request nya pake English..mana pede??? tapi karena ini ada nama-nama si dia, maka maafkeun jadi bahasanya campur-campur yaa..

How about our daily activity? Our class start at 8am up to 4pm. 12-1pm for lunch. Emak yulia, Jamal and Sunil in class A, and Me, Sammy and Lisa  class B. Discussion, presentation about adolescent reproductive health, family planning, HIV among discordant couple, HIV Epidemiologic, STI’s also Genital Based Violence. It is very interesting. Fieldtrip at redlight, so amazing!! Ini beberapa foto kegiatan di Royal Tropic Institute selama 3 minggu..
Ella, riska, Priska, Me, Lala, Emak

Discuss time

mbak Na dan ayah juga ikut :)

with teacher

with friends

our lunch

Fieldtrip di daerah Dam Square (panas dingin masuk angin)

on Fever :(
Hotel dan kampus kurang lebih 2 kiloan, kita bareng-bareng berangkat jalan kaki, awalnya muter2 smpe 4 kiloan kayaknya..akhirnya bisa dapet jalan yang lebih dekat melewati Oostepark nan indah. Seringnya saya dan Sammy pulang berdua karena kami 1 kelas.

Weekend sudah penuh dengan segudang rencana. Weekend minggu pertama diajak sama Emak Yulia dan dianterin sama temennya Emak ke volendam, stadion ajax, dan sekitarnya. Temennya Emak namanya pak Zaenal, beliau adalah perawat yang bekerja disana. Terima kasih sekali pak Zaenal dan keluarga yang telah mengajak kami jalan-jalan di weekend yang indah. Weekend yang lain mengitari the haque bersama teman emak yang lain. Keluarga pak Rahman dan mbak Yuni beserta si ganteng Alfian yang panggil saya tante pink. Terima kasih mbak Yuni dan keluarga yang sudah selalu ada untuk kami repotkan dari datang hingga pulang mengantar ke schipool.  Keluarga ini jugalah yang mengantar kami menikmati indahnya Keukenhof. Terima kasih yang tak terhingga.
Volendam :)

Stadion Ajax Amsterdam


subhanallah tuliiip:)

keukenhof
Minggu pertama adalah minggu adaptasi dengan dingin yang saat itu sekitar 2-5 derajat celcius. Pola makan yang masih sok sok diet dan minum Cuma teh anget ternyata tidaklah cukup. Mandi yang masih berlagak gaya Muntilan pagi sore. Belum lagi gaya pakaian yang cuma pake baju+jaket saja. Lalu…tumbang! Panas pilek (padahal saya sebenarnya juarang pilek). Alhasil merubah pola makan, pola mandi dan pola berpakaian. Makan harus tinggi protein, beli madu, dan di kampus minum susu yang ada disana (teh anget…maaf saya tinggal dulu yaa). Mandi..ya dihitung secukupnya he he he..pakai baju??lapis 3-4 kalau keluar2. Dan disaat itu, kewarasan saya sudah mulai hilang. Kangen yang biasa blonyoin, kangen yang biasa buatin jahe anget kalau lagi masuk angin. Dan kangen dada bidangnya…ulalalala…nangis Bombay…Pingin pulang! (whatttt???). Video call nangis nangis gak kuat! (cen ra jelas!! Jarene pingin..haduuuh).

Minggu kedua sudah mulai stabil, di kelas enjoy…jalan-jalan enjoyy…video call enjoy…meskipun pake kiyip-kiyip. Alarm jam 12 malam Cuma buat say hello mbak na yang udah cantik pake seragam berangkat ke sekolah. Emaknya masih muka bantal. “Bundaaaa..embak sekolah dulu yaaa…” Ayahnya?? Lagi persiapan ujian akhir diklatpim. Sukses untuk kita semuaaa..amiin.

Minggu ketiga??Enjoy banget tapi pede naik trem kemana-kemana berdua sama emak. Muter-muter dam square dengan tujuan tidak jelas juga udah sering. Udah mulai nge list oleh-oleh. (Dasar emak-emak). Bukannya mikir ujian he he he. Ya minggu ketiga kita bakal exam. Boleh sih gak ikut untuk peserta shortcourse. Tapi ya mending tetep ikut buat ngukur kemampuan nulis kita. He he he.. soalnya sih gampang…jawabnya yang susah. Essay 5 soal tapi bisa habis 10 lembar HVS itu cukup membuat theol. Itu aja mbuh nulisnya apa. Kalau suruh mengerjakan dalam bahasa Jawa kayaknya nilai saya 100 wakakakaka. Berhubung ini bahasa Inggris, target saya separonya. Ya tahu diri saya dengan kemampuan writing yang dibawah standar.

Apa yang bikin kangen??semuaaaa…temen-temennya. Shortcoursenya, fasilitatornya, dan suasana akademisnya. Ya selalu diapresiasi apapun yang kita sampaikan..YOU DID IT!! Sering banget saya dengar, waktu saya komentar sesuatu lalu abis tu saya curhat, sebenarnya saya gak pede.. Ya…mereka sangat baik..menghargai meskipun kita baru saling kenal.

Suasana Belanda ngangenin gak???iya pake bangetts…di minggu ketiga baru kerasa udah cepet banget…Nulis ini jadi kangen Dam Square, kangen wibaustraat, kangen albert heijn, kangen oostepark…ahhh semua bikin kangen.

Saatnya pulang… 1 April 2016 kita pulang, berangkat ke schipol rame-rame..bareng Emak, sunil, diantar Alfian and family. Di bandara ketemu sama Sammy dan Jamal. Koper juga beranak pinak. Berangkat bawa 1 pulang bawa 2. Dapet rejeki nomplok, gantiin kopernya Emak Cuma 15 euro. Emak kesengsem sama koper ungu..padahal udah beli silver. Makasih emak atas koper Netherland harga Muntilan ha ha ha..

Bye bye Amsterdam…abis check in antri imigrasi. Dannnn baru nyadar tertulis departure 15.45 (perasaan di tiket 16.45 deh, haaah apa ini karena daylight saving???) Posisi check in udah jam 15. 30!! Panic attack…permisi-permisi…minta check ini duluan…udah kayak orang kesurupan lari cari Gate garuda..eh nemu ditulis pindah…beneran nafas ngap ngap..mau nangis udah gak bisa. Udah kepikiran bakal terlantar ketinggalan pesawat. Udah sekuat tenaga lari sekenceng-kencengnya bawa tas 2 lagi…sampailah ke gate baru garuda. Terseok-seok datengin mbaknya…Cuma bisa bilang sorry I’m late!...sorry..dan ndeprok. Yaah liat disitu sepi Cuma kepikiran aku udah ditinggal…oiii tiket 15 jutaaaa nangissss…

You’re not late. 15.45 is open gate. Your departure 16.45. What???kutunjukkan print cek in-nya. Mbaknya minta maaf bilang itu salah….owhhh nangis sejadinya di kursi tunggu sambil menikmati kaki yang mulai kerasa pedel dan senut senut...Kalau ditanya, “Apa yang kau takutkan naik pesawat??” Jawabku “ketinggalan pesawat!” Nggak ngerti phobia naik pesawat adalah ketinggalan. Alhamdulillah belum pernah sih…naudzubillah..tapi cerita temen-temen dan pernah sekali suami ketinggalan pesawat dan saya hebooh nyari tiket agen ini itu…ternyata bikin trauma! Ya Alhamdulillah penerbangan pulang juga lancar. 3 seat Cuma didudukin sendiri…dan direct pula…jadi gak ribet bawa barang-segambreng…

Alhamdulillah safe landing di Jogja jam 2 siang hari Minggu. Udah dijemput sama mbak na dan si dia. Ah gak bisa diceritain pake kata-kata. Cuma, sepertinya cita-cita selanjutnya kuliah di luar negeri tetap digantungkan sebagai cita-cita. Karena berat banget jauhan itu ternyataa sodara-sodara…Bersama keluarga itu, nikmat yang tiada duanya!

Semoga ada kesempatan lagi…ada rejeki dari Allah SWT lagi untuk mencari ilmu…syukur-syukur barengan serumah ma mbak na dan ayah..Amiiin… Bismillah bermimpi lagi, Maastrict, tunggu aku ya.. Malaikat…aminkan doaku ini ya…suamiku ridho kok, Cuma 2 minggu soalnya :)