Minggu, 12 Maret 2017

Cerita yang tertunda (Part 2)

beloved friends, left to right:  Me (Indonesia), Lisa (Nepal), Yulia (Indonesia)
Jamal (Yaman), Sammy (Kenya)
Hari ini, setahun yang lalu..12 Maret 2016, merupakan salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupa sepanjang hidup. Salah satu mimpi kecil saya, tertapaki… Hari ini, setahun yang lalu..nama saya tertera dalam tiket penerbangan Internasional dengan rute JOG (Yogyakarta) – AMS (Amsterdam). Bismillahi tawwakaltu ‘alallah.

Meskipun Tidak mudah menuliskan kembali cerita itu. Jujur!! Bukankah bahagia? Satu mimpi besar itu datang...sesuai dengan doa yang dipintakan? Ya... Tapi ada juga satu lagi pelajaran hidup untuk saya. Dalam kebahagiaan ada juga “ujian”. Dalam “ujian” pasti diselipkan kebahagiaan. Ya..bagaimana kita harus pandai-pandai mengatur hati untuk selalu bersyukur dengan semua ketetapanNya.

Tepatnya beberapa setelah e-mail pemberitahuan bahwa akhirnya saya mendapat beasiswa itu, dapat juga kabar bahwa suami harus menjalani diklatpim III selama 3 bulan. Dengan waktu yang hampir bersamaan, tepatnya beririsan. Apa yang langsung terpikir saat itu? Ya bagaimana mbak Na?? Ayah bundanya harus pergi dengan waktu bersamaan?? Jujur itu cukup berat khususnya untuk saya. Alhamdulillah mbak Na tidak mempersalahkan hal itu dan bahkan ia sudah memikirkan solusi yang benar-benar bisa membuat bundanya lega..bahkan lega sekali. “Mbak Na bobok di tempat uti aja”. Statemen-nya diamini oleh uti dan kakungnya. Well, masalah selesai.

Tapi kiranya Allah SWT inginkan kami lebih tangguh lagi. 2 hari sepulang mengurus Visa Schengen, tepatnya hari Jumat 19 Februari 2016, uti kecelakaan. Fraktur di kaki kanan uti, total berjumlah 5 titik. Uti harus operasi, bedrest, dan tentunya butuh perawatan. Menitipkan mbak Na dengan uti yang kondisinya seperti itu, hanya berharap pada Allah Taala agar mbak Na bisa mandiri, ceria dan bahkan saya menitipkan pada mbak Na untuk merawat uti. Dunia terbalik. Kemarin saya yang menitipkan mbak Na ke uti, gantian saya yang bilang ke mbak Na “pasrah uti ya nak”. (Bunda tahu kamu anak hebat, anak yang selalu bisa membuat ayah dan bunda bangga padamu).

Tibalah saatnya berangkat, dengan segala kegundahan hati. Kalau bukan Bapak yang berkali kali mengingatkan ini jihad...jihad!! jihad itu tidak mudah. Menuntut ilmu itu wajib hukumnya, lakukan sebaik-baiknya. Apapun yang akan terjadi dirumah selama kamu pergi, apapun itu kamu harus ikhlas. Apapun kesulitan yang akan kamu temui disana, itu nilainya pahala. Bismillah, berangkatlah dengan hati yang ihklas. Pasrahkan semua pada Allah SWT. Begitu kira-kira pesan Bapak yang begitu menguatkan saya.

12 Maret 2016. Dalam ujung titik kepasrahan dan kegundahan, ternyata doa adalah kekuatan yang tak terhingga. Setidaknya itu pengalaman saya. Betapa tidak, dalam hidup saya, ini adalah perjalanan terlama saya, dalam tiket tertera penerbangan 17 jam. Jujur saya tidak tahu harus bagaimana, harus ngapain. Takut, grogi,campur campur.  Well ndremimil..apa yang saya ndremimilkan?? Hanya berseru dalam hati, hanya memanggil Allah taala disaat merasa deg-degan dan hanya berbisik, tolong saya..bantu saya ya Rabb...cek imigrasi done, bahkan ini cek imigrasi tercepat dan tersantai dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang pasti selalu antri...masuklah gate Soetta menuju Amsterdam. Mulailah clingak clinguk. Kenapa ini bule semua?? Pasang mata, mana orang Indonesia??

Di detik detik akhir menuju keberangkatan, tiba-tiba ujug-ujug ada mbak-mbak pake jilbab berkaos lorek2 duduk disamping saya, Nyess..padahal kenalan juga belum tapi setidaknya bisa membuat saya “nyaman”. Panggilan masuk pesawat. Yup..antri...masuklah ke Garuda Indonesia yang siap membawa saya dalam perjalanan jauh ini. Amsterdam!! Pas masuk, ya..agak kaget sih..baru kali ini naik pesawat dengan model 3 seat, untungnya mbak pramugarinya baik hati untuk mengarahkan saya harus mengambil jalur yang lebih dekat. Done..ketemu seatnya. Sesuai request saya milih yang pinggir luar. Yup..karena kaki saya panjang, sesuai nasehat adik saya yang bernasib kaki panjang jugak dan lebih senior dalam penerbangan internasional.  Beberapa menit setelah duduk manis, dan kursi-kursi lain mulai diisi bule bule, deratan kursi saya masih kosong aja. Deg-degan...menunggu siapakah teman duduk saya dari ratusan penumpang tadi. Tiba-tiba jreeenggg...mbak berkaos loreng tadi menghampiri barisan tempat duduk saya, dan ia permisi untuk masuk. Whaatt??dia??#Plooong. Pesawat udah mau berangkat aja, berarti kami Cuma berduaa??? Coba apa itu namanya??berkah??rejeki??keajaiban?? Yup..namanya DITY. Dia mahasiswa S2 di Delft Belanda, orangnya cantik, pinter plusss baiiiiik. Tentunya dia yang selama perjalanan berangkat menjadi guide saya, dari mulai ternyata transit di singapura, saya harus ngapain, DITY lah satu dari “malaikat” yang Allah SWT kirimkan untuk saya dalam perjalanan 17 jam menuju benua biru. Bahkan tak sampai disitu DITY memastikan saya bertemu dengan “malaikat” lain yang sudah siap menunggu saja di Amsterdam Schipol. Bersyukur. Terima kasih DITY untuk semuanya.
Me and Dity
Pahlawan lainnya namanya RISKA. Dia adalah Master Student di KIT. Kita kenalan via email dan dengan besar hati ia mau menjemput saya dan mengantarkan saya menuju hotel. Bawa koper segambreng, dialah RISKA yang dengan senyum renyahnya setia menemani Mbakyu barunya yang ndeso ini puter2 Amsterdam di hari pertama itu. Mungkin karena kita sama-sama berlatar belakang Bidan ya...jadi udah ngerasa deket aja. Makasih RISKA untuk semuanyaaa.
Me and Riska
Yup akhirnya mendarat juga di The STUDENT HOTEL Wibaustraat setelah sebelumnya pakai acara salah lokasi hotel segala. Daaann akhirnya bertemulaah sama EMAK tercinta.. Beliau dari Makassar. Jadilah kami duo macan dari Indonesia. Dan bersama EMAK Yulia, kami berpetualang indah...sangaat indah..iya kan mak...Love you deh mak..semoga kapan2 kita bisa jalan2 bareng lagi yaaa…
with my Lovely Emak di trem


Jamal  Sammy, Lisa, Emak and Me. 
And they are my new friends..and wish be best friends forever. SAMMY, he is smart and kindheart from Kenya. JAMAL, funny man from YAMAN, LISA SOTI beautiful, kindheart from NEPAL. And also SUNIL from NEPAL. Yeaaah we just like a new family. We take care each other. Go arround together and a lot of beautiful moment of us, as long 3 weeks together. And we also meet the great friends from whole the world from master student of KIT. Such As Ella medical doctor and Andy from Indonesia. Sylvia from Nigeria. Winnie from Thailand, Radhika from Nepal and many more. Maaf kalau belepotan, mereka suka ikut baca blog ini..request nya pake English..mana pede??? tapi karena ini ada nama-nama si dia, maka maafkeun jadi bahasanya campur-campur yaa..

How about our daily activity? Our class start at 8am up to 4pm. 12-1pm for lunch. Emak yulia, Jamal and Sunil in class A, and Me, Sammy and Lisa  class B. Discussion, presentation about adolescent reproductive health, family planning, HIV among discordant couple, HIV Epidemiologic, STI’s also Genital Based Violence. It is very interesting. Fieldtrip at redlight, so amazing!! Ini beberapa foto kegiatan di Royal Tropic Institute selama 3 minggu..
Ella, riska, Priska, Me, Lala, Emak

Discuss time

mbak Na dan ayah juga ikut :)

with teacher

with friends

our lunch

Fieldtrip di daerah Dam Square (panas dingin masuk angin)

on Fever :(
Hotel dan kampus kurang lebih 2 kiloan, kita bareng-bareng berangkat jalan kaki, awalnya muter2 smpe 4 kiloan kayaknya..akhirnya bisa dapet jalan yang lebih dekat melewati Oostepark nan indah. Seringnya saya dan Sammy pulang berdua karena kami 1 kelas.

Weekend sudah penuh dengan segudang rencana. Weekend minggu pertama diajak sama Emak Yulia dan dianterin sama temennya Emak ke volendam, stadion ajax, dan sekitarnya. Temennya Emak namanya pak Zaenal, beliau adalah perawat yang bekerja disana. Terima kasih sekali pak Zaenal dan keluarga yang telah mengajak kami jalan-jalan di weekend yang indah. Weekend yang lain mengitari the haque bersama teman emak yang lain. Keluarga pak Rahman dan mbak Yuni beserta si ganteng Alfian yang panggil saya tante pink. Terima kasih mbak Yuni dan keluarga yang sudah selalu ada untuk kami repotkan dari datang hingga pulang mengantar ke schipool.  Keluarga ini jugalah yang mengantar kami menikmati indahnya Keukenhof. Terima kasih yang tak terhingga.
Volendam :)

Stadion Ajax Amsterdam


subhanallah tuliiip:)

keukenhof
Minggu pertama adalah minggu adaptasi dengan dingin yang saat itu sekitar 2-5 derajat celcius. Pola makan yang masih sok sok diet dan minum Cuma teh anget ternyata tidaklah cukup. Mandi yang masih berlagak gaya Muntilan pagi sore. Belum lagi gaya pakaian yang cuma pake baju+jaket saja. Lalu…tumbang! Panas pilek (padahal saya sebenarnya juarang pilek). Alhasil merubah pola makan, pola mandi dan pola berpakaian. Makan harus tinggi protein, beli madu, dan di kampus minum susu yang ada disana (teh anget…maaf saya tinggal dulu yaa). Mandi..ya dihitung secukupnya he he he..pakai baju??lapis 3-4 kalau keluar2. Dan disaat itu, kewarasan saya sudah mulai hilang. Kangen yang biasa blonyoin, kangen yang biasa buatin jahe anget kalau lagi masuk angin. Dan kangen dada bidangnya…ulalalala…nangis Bombay…Pingin pulang! (whatttt???). Video call nangis nangis gak kuat! (cen ra jelas!! Jarene pingin..haduuuh).

Minggu kedua sudah mulai stabil, di kelas enjoy…jalan-jalan enjoyy…video call enjoy…meskipun pake kiyip-kiyip. Alarm jam 12 malam Cuma buat say hello mbak na yang udah cantik pake seragam berangkat ke sekolah. Emaknya masih muka bantal. “Bundaaaa..embak sekolah dulu yaaa…” Ayahnya?? Lagi persiapan ujian akhir diklatpim. Sukses untuk kita semuaaa..amiin.

Minggu ketiga??Enjoy banget tapi pede naik trem kemana-kemana berdua sama emak. Muter-muter dam square dengan tujuan tidak jelas juga udah sering. Udah mulai nge list oleh-oleh. (Dasar emak-emak). Bukannya mikir ujian he he he. Ya minggu ketiga kita bakal exam. Boleh sih gak ikut untuk peserta shortcourse. Tapi ya mending tetep ikut buat ngukur kemampuan nulis kita. He he he.. soalnya sih gampang…jawabnya yang susah. Essay 5 soal tapi bisa habis 10 lembar HVS itu cukup membuat theol. Itu aja mbuh nulisnya apa. Kalau suruh mengerjakan dalam bahasa Jawa kayaknya nilai saya 100 wakakakaka. Berhubung ini bahasa Inggris, target saya separonya. Ya tahu diri saya dengan kemampuan writing yang dibawah standar.

Apa yang bikin kangen??semuaaaa…temen-temennya. Shortcoursenya, fasilitatornya, dan suasana akademisnya. Ya selalu diapresiasi apapun yang kita sampaikan..YOU DID IT!! Sering banget saya dengar, waktu saya komentar sesuatu lalu abis tu saya curhat, sebenarnya saya gak pede.. Ya…mereka sangat baik..menghargai meskipun kita baru saling kenal.

Suasana Belanda ngangenin gak???iya pake bangetts…di minggu ketiga baru kerasa udah cepet banget…Nulis ini jadi kangen Dam Square, kangen wibaustraat, kangen albert heijn, kangen oostepark…ahhh semua bikin kangen.

Saatnya pulang… 1 April 2016 kita pulang, berangkat ke schipol rame-rame..bareng Emak, sunil, diantar Alfian and family. Di bandara ketemu sama Sammy dan Jamal. Koper juga beranak pinak. Berangkat bawa 1 pulang bawa 2. Dapet rejeki nomplok, gantiin kopernya Emak Cuma 15 euro. Emak kesengsem sama koper ungu..padahal udah beli silver. Makasih emak atas koper Netherland harga Muntilan ha ha ha..

Bye bye Amsterdam…abis check in antri imigrasi. Dannnn baru nyadar tertulis departure 15.45 (perasaan di tiket 16.45 deh, haaah apa ini karena daylight saving???) Posisi check in udah jam 15. 30!! Panic attack…permisi-permisi…minta check ini duluan…udah kayak orang kesurupan lari cari Gate garuda..eh nemu ditulis pindah…beneran nafas ngap ngap..mau nangis udah gak bisa. Udah kepikiran bakal terlantar ketinggalan pesawat. Udah sekuat tenaga lari sekenceng-kencengnya bawa tas 2 lagi…sampailah ke gate baru garuda. Terseok-seok datengin mbaknya…Cuma bisa bilang sorry I’m late!...sorry..dan ndeprok. Yaah liat disitu sepi Cuma kepikiran aku udah ditinggal…oiii tiket 15 jutaaaa nangissss…

You’re not late. 15.45 is open gate. Your departure 16.45. What???kutunjukkan print cek in-nya. Mbaknya minta maaf bilang itu salah….owhhh nangis sejadinya di kursi tunggu sambil menikmati kaki yang mulai kerasa pedel dan senut senut...Kalau ditanya, “Apa yang kau takutkan naik pesawat??” Jawabku “ketinggalan pesawat!” Nggak ngerti phobia naik pesawat adalah ketinggalan. Alhamdulillah belum pernah sih…naudzubillah..tapi cerita temen-temen dan pernah sekali suami ketinggalan pesawat dan saya hebooh nyari tiket agen ini itu…ternyata bikin trauma! Ya Alhamdulillah penerbangan pulang juga lancar. 3 seat Cuma didudukin sendiri…dan direct pula…jadi gak ribet bawa barang-segambreng…

Alhamdulillah safe landing di Jogja jam 2 siang hari Minggu. Udah dijemput sama mbak na dan si dia. Ah gak bisa diceritain pake kata-kata. Cuma, sepertinya cita-cita selanjutnya kuliah di luar negeri tetap digantungkan sebagai cita-cita. Karena berat banget jauhan itu ternyataa sodara-sodara…Bersama keluarga itu, nikmat yang tiada duanya!

Semoga ada kesempatan lagi…ada rejeki dari Allah SWT lagi untuk mencari ilmu…syukur-syukur barengan serumah ma mbak na dan ayah..Amiiin… Bismillah bermimpi lagi, Maastrict, tunggu aku ya.. Malaikat…aminkan doaku ini ya…suamiku ridho kok, Cuma 2 minggu soalnya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar