Senin, 17 Maret 2014

Sekolah Itu Ibu (Part 3)


Oke..
Sekarang, bercerita sudah bisa lebih obyektif, bisa menerawang perasaan beberapa pihak yang berhadapan langsung dengan hidupku, sangat berbeda dengan perasaanku kala itu. Kalut!! atau kalau bahasa anak sekarang galau, tapi tak ada pilihan lain*.
*Keinginan, cita-cita yang begitu menderu semenjak kecil, harus dihadapkan pada hati nurani yang melongok pada bingkai kehidupan yang sebenarnya. Aku tahu aku harus berbagi dan tak mungkin keegoisanku kubiarkan merenggut semuanya!! Kembali pada pasal satu, ‘”lakukan saja yang terbaik”.

Deal!!!
Lakukan saja yang terbaik....
Kuyakini, Bapak Ibu akan mengusahakan apa yang bisa mereka usahakan untuk anak-anaknya. Aku sangat tahu itu!! Tapi aku punya perhitungan lain. Jadi, tidak ada yang meminta maupun memaksa, dalam pilihan ini! 100% atas kesadaran hati meskipun sebenarnya bukan pilihan hati (*harus jujur kuakui). Keyakinanku hanyalah, kesadaran hati akan membuahkan keikhlasan untuk melakukan,   lalu keikhlasan?? Bukankan akan dilunaskan sebuah kebahagiaan??ya aku sangat mengamini keyakinan itu, bahkan terus dan terus berusaha memupuk keyakinan itu...keikhlasan akan membuahkan kebahagiaan!!Meski kapan, entah kepastian darimanapun tak terketahui...karena itu adalah rahasia di balik langit, rahasia Sang Pemilik Nafas!!

Ya, semua berjalan tanpa kendala. Satu dua hari berjalan berganti tahun,  tahun berganti masa. Semua berjalan dengan baik, dan hanya bisa mengupayakan dan berhadap agar membuahkan pula sesuatu yang lebih baik. Bertemu dengan sahabat-sahabat terbaik membuat semakin berdamai dengan pilihan ini. Dialah Jauharin Pintam Tyastirin (*panggilannya Ririn, kupanggil ia dengan “Cinta”), yang dengan dialeg ngapaknya selalu menghadirkan tawa di kamar asrama nomor 21. Menjadi partner yang dahsyat dalam curhat dan ngobrol tengah malah diatas genting lantai 2 itu untuk menikmati pelabuhan tanjung mas di kejauhan malam, merenungi perjalan hidup dan menggambar pola masa depan..Menjadi teman bisnis yang baik untuk membeli jilbab di pasar johar untuk dijual kembali, paling tidak bisa untuk jajan bakso poltabes tiap akhir pekan tanpa harus mengharapkan transferan!! Ialah juga Nining Setyaningsih (*kupanggil Tiwul, karena ia asli wonogiri), sahabatku yang cantik sekali ini selalu memberikan cerita-cerita cintanya dengan sang pangerah hati yang ia kenalnya saat sama-sama menuju Semarang. Aku hanya bisa manggut manggut mendengar kisah-kisahnya sama mas Memet, karena aku juga selalu dapat untungnya, ya segepok coklat itu juga pasti mampir ke mulutku. (*Senangnya liburan kemarin sahabat-sahabat terbaikku ini berkunjung kerumahku bersama keluarga dan anak-anak mereka. *Tiwul bener2 jadi sama mas Memet, pertemuan itu jadi reunian cerita-cerita cinta mereka. Makasih mete dan baksonya tiwul, makasih batiknya yang indah Cinta). Semua teman pada kisah ini sangat luar biasa, karena kami hanya ber-40, kami tinggal bersama pula di asrama, banyak kisah-kisah yang luar biasa. *Miss u all...

Cerita cerita remaja dengan intriknya juga masih bersliweran disini. Dengan Munculnya tokoh-tokoh yang pernah mewarnai dan menyemai bunga-bunga di hati. Kembali, rahasia langit itu masih rapat, belum ada keyakinan hati untuk melabuhkan perahu hati itu pada sang penyemai bunga. Masih abu-abu...masih penuh ragu-ragu...meski ada satu nama itu, yang agak susah dimengerti, mengapa selalu menjejali segenap perasaan sehingga menjadi ada rindu!??Rasa ini seperti pernah kurasakan...kenapa kini muncul lagi?? Ah kenapa juga harus ada perasaan itu...*berarti hati ini sedang sakit!!*

Diujung tahun ketiga, semua terasa sudah lebih lekat dihati..Tak ada penolakan, ataupun pergolakan selain hanya ingin menuntaskan perjalanan ini dengan nilai yang baik dan “HARUS” bisa melanjutkan bangunan mimpi itu!! Alhamdulillah 3 tahun itu usai dengan nilai memuaskan!

Ketika perjalanan ini usai, hati justru tak menentu!! Aku tak ingin hanya berhenti disini??
Di pos satpam asrama itu terpampang nyata, menohok rasa hati menjadi semakin ingin, bahkan sangat sangat ingin sekali...tertulis di sana Universitas Padjadjaran DIV*** membuka mahasiswa baru bla bla bla...
*aku ingin kuliah lagi* titik.

(Sekali lagi, jawaban Bapak dan Ibu BUKAN masalah uang. Keyakinanku pada mereka, lebih pada mereka menginginkan aku untuk menjadi manusia yang lebih tangguh). Jawaban mereka kala itu *Kalau mau lanjut kuliah, carilah jalan, upayakan dengan kemampuanmu sendiri Nak”.

Seperti tersambar halilintar, tersungkur pilu. Sepertinya semuanya sudah habis, sudah selesai disini!!Dilengkapi pula dengan jawabannya kala itu “Aku sayang kamu, tapi aku ingin kamu lebih dari ini???”

Apa ini maksudnya Ya Rabb???*tersungkur lunglai.

*Merasa lengkap sudah robohnya bangungan itu, cita-cita, cita cinta??* Tak bisa kubayangkan pun sekarang, betapa susahnya aku merangkai kembali patahan-patahan semangat itu. Akupun masih pilu mengenang masa-masa itu. Entah kekuatan dari mana akhirnya aku dapat menegakkan kembali sandaran itu, kembali berjalan meskipun tertatih-tatih, dan nyeri...

Tanggal 18 Oktober tahun 2003, beberapa hari setelah wisuda, dan aku “masih remuk”, dia, teman lamaku, di tengah sawah di daerah Kuningan ia meneleponku, ia bercerita tentang banyak hal. Sebenarnya saat itu aku benar-benar lupa dengan wajah teman SMAku yang satu ini.  Ia menelepon pada saat yang tepat. *Tepat galau!. Ya, akhirnya aku bercerita tentang “keterpurukanku”, dan ia hanya menjawab...”ceritakanlah semua pada Sang Penjaga Alam yang Maha Besar dan maha Kuat, Dialah yang akan mengirim kekuatan itu untukmu”. “kukenal kamu tidak seperti ini”. *Terima kasih kawan!* tapi, dia dapat nomerku dari mana??????*

Ya benar, Sang maha Kaya Raya akan Dunia Seisinya, sangat nyata mengecas semangat yang kemarin hilang..Meski sedikit demi sedikit, semua kembali berjalan seperti biasa. Aku jua telah mulai bekerja, membantu sebuah klinik yang dibangun bersama ummat waktu aku masih duduk di kelas VI SD. Kepuasan tak terhingga bisa mengabdikan sebagian ilmu itu untuk mereka!!

Kembali mencari beasiswa, baik dari koran maupun dari informasi teman-teman. Dosenku, memberi tahu dan memintaku mendaftar di sebuah institusi di Purwokerto yang sedang membutuhkan staf pengajar dan akan disekolahkan di Unpad (*bukankah ini mimpiku??). Kudiskusikan dengan keluarga besar termasuk kakak sepupuku yang tinggal di Purwokerto. Selain ikatan dinasnya 8 tahun, ada pertimbangan lain dari kakak sepupuku yang kuyakini beliau jauh lebih paham, maka akhirnya kesempatan itu tidak kuambil. Dan Cinta-lah, sahabatkku yang masuk kesana, yang sebelumnya sudah kuberi tahu tentang plus minusnya yang akhirnya tawaran itu kutolak. It’s your way cinta (Im sorry to hear that, cinta bercerita ia keluar dengan tidak nyaman dengan institusi tersebut, yang kuat ya cinta!!*alhamdulillah cinta dah dapet pekerjaan yang jauh jauh lebih nyaman dan aman ya cin!!)

Ia, teman lamaku pulang. Ia datang kerumah bersama sahabatku, namanya Adi. Ia adalah temanku SMA yang juga sering main ke asrama karena ia kuliah di D1 STAN di Semarang. Kembali kuceritakan tentang pencarianku atas kesempatan-kesempatan emas “agar dapat segera kuliah lagi”. Ia, temanku yang kuliah di Bandung ini dengan baik hatinya bersedia mengantarkanku ke Semarang untuk mencari peruntungan itu. Beberapa kampus yang kemarin sudah memberikan penawaran melalui dosenku kudatangi dan hasilnya nihil, tak ada kesepakatan. Semua memberikan waktu ikatan dinas lebih dari 5 tahun. Kakak sepupuku mewanti wanti ikatan dinas tidak boleh lebih dari 3 tahun dengan perhitungan 2n+1. Kalau lebih dari itu, pasti ada hak yang tidak seimbang, kita sebagai mahasiswa ikatan dinas akan diikat lebih dari hak yang kita dapat waktu sekolah.  Sebenarnya kesempatan itu ada di depan mata, hanya saja tidak ada kesepakatan!dan aku menurut! Mereka (Bapak, Ibu, Kakakku) pasti punya pertimbangan yang lebih matang dibandingkan dengan emosi sesaatku!

Suatu ketika, Ibu pulang dari Kantor membawa sesobek kertas yang Ibu dapat dari temannya, namanya Bu Esti (*Matur nuwun bu atas kertas emas itu). Tertulis disana sebuah sekolah tinggi ilmu kesehatan sedang membuka DIV *** dan akan memberikan beasiswa penuh pada 5 pendaftar dengan nilai ujian masuk tertinggi dan akan diangkat sebagai staf pengajar dengan ikatan dinas 3 tahun!! *semangat kembali berkobar*

Kuhubungi teman-teman kuliahku, dan akhirnya kami bertemu di Semarang, belajar bersama dan bertempur bersama. Pada hari H ujian itu, sekitar 60 orang dan diantaranya adalah teman-temanku kuliah, mencoba peruntungan itu. Aku tak pikir panjang toh doktrin Bapak masih menyala, “sekolah itu ibu...bukan untuk dipilih, tapi lakukan saja yang terbaik, bukan sekolah yang akan membawa kesuksesan untukmu, tapi dirimu sendiri”.*iya pak, manggut-manggut*

Satu minggu kemudian pengumuman itu disampaikan, entah rahasia yang ada dipendaran langit, entah apa skenario yang tertulis di buku kehidupanku olehNya, entah apa yang ada dalam ketentuanNya, nama ku ada di urutan pertama itu! Sayangnya tak ada satupun nama teman-temanku disana.

Kembali harus kuhilangkan sekolah yang pernah kuimpikan, ya ini  menjadi babak kedua dari cerita kecilku kala itu, bukan karena nilaiku, tapi ada kebijakan dari Bapak dan Ibu dengan perhitungannya yang maha dahsyat akhirnya aku bersekolah di SMP Muhammadiyah Tanjung. Seperti Babak kehidupan kedua juga ketika aku bersekolah di SMA N 1 Muntilan, disini satupun tak ada yang kukenal. Ya, ini menjadi perjuangan hidup sesi 3!!

Kabar gembira itu kusampaikan pada teman lamaku itu, kutelpon ia, kusampaikan terima kasih atas semua suntikan semangatnya selama ini! Syukurku tak terhingga, di terdalam hati sangat meyakini... semua rahasia langit, entah apa skenario yang tertulis di buku kehidupanku olehNya, entah apa yang ada dalam ketentuanNya, semua pasti yang terbaik untukku, untuk keluargaku...dan aku harus dapat memberikan kebaikan itu yang orang lain...semoga!!!
Terimakasih untuk STIKES  Respati Yogyakarta atas kesempatan emasnya yang telah diberikan kepadaku...

Notes:
*) Perlu belajar memanajemen hati, legowo,  ketika ada suara yang tidak nyaman akan pilihan sekolah ini, but... bukankah sekolah itu ibu...bukan untuk dipilih, tapi lakukan saja yang terbaik, bukan sekolah yang akan membawa kesuksesan untukmu, tapi dirimu sendiri???!!
*) Perjalananku sampai titik ini, kuyakini 100% betul-betul skenario indah dariNya, jadi kalo ada yang menghardik dan mencemoohku, ya...keyakinan dari hati terdalamku, Sang Maha Tahu itu akan turun tangan langsung untuk memberikan penjelasanNya menurut JalanNya yang dikehendakiNya...(Harapku, doaku ya Rabb...)
*) Tugasku adalah menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya...

Minggu, 16 Maret 2014

Sekolah itu Ibu (Part 2)

Cerita pertama, “ibu” yang memberikanku ijazah SMP juga telah melengkapi bekal tak tertulis apa itu kesederhanaan, kesungguhan dan keceriaan dalam menghadapi babak-babak hidup...terima kasih tak terhingga untuk almamaterku tercinta itu, SMP Muhammadiyah Tanjung :)
Pelajaran berharga lainnya adalah keteguhan Bapak dan Ibu untuk “menyingkirkan” semua pendapat orang, yang kebanyakan mengatakan “eman-eman” menyekolahkanku disana. Keteguhan Bapak dan Ibu memberikanku gambaran bahwa dalam setiap pilihan dalam perlajanan hidup bisa saja akan menimbulkan pro dan kontra. Tergantung niatan apa yang ada di dalam hati, dan Allah SWT maha tahu, maha melihat isi hati. Niatan baik pasti dibayar lunas juga dengan kebaikan-kebaikan dariNya, Insha Allah...

The next story,
Kusampaikan kepada Bapak dan Ibu, aku ingin mencoba melanjutkan ke sekolah yang menurut penilaian buanyak orang adalah sekolah yang sangat baik. Bahkan menurut cerita Om, sekolah tersebut pada tahun 80-an pernah menjadi sekolah dengan nilai terpelit, he he he ga tahu juga buat apa predikat tersebut.

Singkat cerita, akhirnya aku menemukan kelanjutan “ibu” dalam babak baru kehidupanku, menjadi remaja SMA. Disini berjilbab menjadi pilihan, bukan kewajiban yang akhirnya menjadi kebiasaan. (*pesan moral baru, banyak pilihan dalam hidup ini*). Tapi, alhamdulillah aku sudah merasa tidak nyaman tanpa jilbab. Hari berganti hari, “masih” merasa seperti terombang ambing di lautan lepas tanpa tahu arah yang jelas (opo iki maksude), he he...maksudnya menjadi sebatang kara, seorang diri dari sekian ratus anak-anak “hebat” yang berada di sekolah ini aku merasa kecil...sangat kecil...karena bisa dikatakan semua baru disini, kecuali satu atau dua orang teman yang dahulu pernah bersama waktu seleksi SMA TN. Kadang aku menangis sendiri menunggu jam pulang, ketika bulan-bulan pertama aku disana. Untung aku punya hobi korespondensi yang cukup bisa membuatku merasa memiliki banyak teman. Salah satunya dialah Tyas Utami Dibyantari, teman baikku ini adalah dua sejoli denganku saat tes terakhir di SMA TN di Semarang. Ia masih setia dan dengan baiknya mengirimiku surat dan menceritakannya apa saja yang ia lakukan di SMA TN. (entah masih ingatkah ia atau tidak). Terima kasih sobat, kehadiranmu lewat surat-suratmu itu sangat membantu aku dalam kesepianku kala itu!! Ya, cerita terasa lebih sadis lagi di sekolahku ini, ketika pembagian raport catur wulan 1, whatttt? Tertulis disana, rangking 3?????

Merah padam, malu, ini adalah pengalaman pertama tertulis angka sebesar itu menghiasi raportku. Sebelum-belumnya tak pernah ada, hanya satu kali, saat pengumuman EBTANAS SMP, ya seperti cerita yang lalu...namaku bukan diurutan pertama!! Kholid Anwar, temanku yang satu itu, dialah wakil ku saat aku menjadi Ketua OSIS, ya dialah yang telah berhasil dengan telak mengalahkanku...nilainya xx,63 dan diriku....berapa coba...xx,60????hanya selisih 0,03!! Ya itulah kemenangan sejatimu kawan, dan kali ini, disini kuakui dengan sepenuh hati...kau memang telah bisa mengalahkanku!! Sempurna sudah kekalahanku atas dirimu, ya kamu tak hanya mengalahkan nilaiku, juga MENGALAHKAN HATIKU!! Eits...prittttt...pritttt.....case closed!!!(cerita cinta dilarang diungkap disini, ada part lain :D)  

Pesan yang kuterima selanjutnya, di sekolah ini aku tahu apa itu “kompetisi”, bagaimana harus “keep on fight” (opo meneh iki), ya maksude disini membuka mataku selebar-lebarnya, teman-temanku disini, semua anak-anak yang dahsyat, dan aku harus lebih tangguh lagi belajar!! (*pesan moral baru, jangan pernah merasa hebat, diatas langit masih ada langit*).  Meskipun sebenarnya sama sekali selama ini bukan aku merasa hebat, tapi lebih tepatnya ada di comfort zone, ga merasa punya saingan, jadi ya gini-gini juga udah rangking 1 (olala, tepuk jidat sendiri!!), lalu disini...gubrakkkk....ternyata puinter puinter tenan konco-koncoku iki, mana ada yang ikut les ini, les itu, olalala...:(

Singkat kata singkat cerita, akhirnya bertemulah juga aku dengan teman-teman yang luar biasa disini, bahkan ada yang melebihi dari sekedar teman biasa. Sahabat sejati. Ya, disini aku menemukan orang-orang luar biasa, mereka mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, salah satu yang terbaik itu dialah Diah Pangestu Windari, indah sekali nama itu, seindah wajahnya dan perilakunya (miss u much, mbak Diah, jadi pingin nangis..). Ingat juga bikin grup anak-anak Satgas Wiyata Mandala, IFIA B n T, Iwut (mbak Diah, red), Fita, Indri, Alul (its me: he2 panggilannya Sahrul Gunawan), Bramanti (my best brother) n Toha. (entah, teman2 ini masih ingat tidak nama nama ini, miss u all :D).

Disini, jua kutemukan banyak hal-hal yang kusenangi. Mulailah aku menemukan dunia baruku. “Menulis”!! Sangat bahagia, ketika kala itu di acara Class Meeting, aku mendapatkan sertifikat yang ditandatangani oleh Ketua OSISku yang hebat, Nur Aeni Ariyanti dan Bapak Kepala Sekolah Bapak Hadi Sutomo (yang kini aku bertentangga dengan beliau :D), sebagai Juara Menulis Karya Tulis Ilmiah, entah juara berapa aku juga lupa...terima kasih untuk amanah ini, yang membuatku semakin senang menulis. Meskipun sepertinya hal ini sudah sering kulakukan dari aku SMP tapi sayangnya tak pernah ada piala yang mampir. Ya, berawal dari itu...alhasil, Bapak Guru Bahasa Indonesia dengan style-nya yang khas berkacamata besar berwarna coklat, benar-benar menjadi pahlawan dalam prestasiku menulis selanjutnya...Alhamdulillah dengan tulisanku, dapat menorehkan nama baik tingkat provinsi untuk sekolahku tercinta ini (*semoga dinilai memang karena kualitas tulisanku, bukan karena atribut sekolahku :(). Menulis iseng di tabloid Bola juga sering kulakukan, Selamat ulang Tahun Crespo, salah satu surat pembaca yang akhirnya dimuat di tabloid Bola tahun 1998. Dan Alhamdulillah juga, akhirnya kini aku dapat membuat buku, meskipun baru buku yang amat sederhana untuk para mahasiswa di bidang ilmuku saja, dan masih nulis rame-rame sama teman2, tetap saja alhamdulillah, apalagi sekarang, tidak terasa sudah empat buku :D Meskipun sekarang, belum ada semangat untuk nulis lagi :(

Ada banyak cerita lulu-lucu dan aneh-aneh yang kualami semasa menduduki bangku SMA ini. Mungkin karena usia remaja yang super duper unik ya. So, other side, dari masalah sekolah, akan saya share-kan betapa usia remaja sebagai usia rentan???
Ya, 100% saya akui, usia remaja merupakan usia yang rentan, usia peralihan, sangat mudah terguncang!! Ini cerita singkat betapa remaja itu unik!!
Its me?? Tidak tahu dari mana asalnya, kenapa waktu aku tertarik menjadi seorang “Model”?? (*Parah!!!*). Alhasil penawaran menjadi model iklan kuterima!! Ahay, jangan berpikir model iklan sabun mandi atau model yang kereeen...Ni model iklan partai politik (mau-maunya, *tepok jidat sendiri). Ya masih ingatkah tahun 1998 ada iklan Partai berwarna kuning yang iklannya ada orang lari-lari di puncak Candi Borobudur???ya itu aku!!!!! (*malu sebenarnya mengakui hihihi). Dapat homor 25 ribu, kalau sekarang mungkin 250 ribu ya, lumayan buanget he2. Ya, kasus remaja labil dimulai, kadang-kadang lepas jilbab (*astagfirulloh hal ‘adzim, maafkan hambaMu ya Rabb). Mana ada model pakai jilbab kala itu!! Mulai seneng nyanyi, lomba kesana kemari, mulai seneng main ke radio (*obsesi jadi penyiar radio, haduuuh ada-ada aja ini anak). Untung..untung...untung...Bapak Ibu ketat!! Ibu said, “boleh nyanyi, boleh jadi model, boleh jadi penyiar radio, asal kalo tampil pakai jilbab” (menerima, tanpa menyangkal dan hanya bilang iya...hihihi masih ada baiknya juga ya ini anak, memujidiri.com). Bapak said, “boleh kemana-mana, tapi Bapak antar” (nerima juga dengan nggrundel, lah pingin dibeliin motor dijawab gitu...daripada diboncengin orang bapak aja yang boncengin (*menerima dengan terpaksa).(*pesan moral untuk diri sendiri, peran keluarga, orang tua sangat amat penting wal khusus menghadapi anak di usia remaja*). Di masa ini juga “gila-gilanya” diriku dengan sahrul gunawan (oh yeyyyy hihihi), mengoleksi all about alul, datang ke acara asal ada dia, gabung jadi membernya Sahrul Gunawan Fans Club (SGF), surat-suratan sesama fans-nya, maklum dulu belum jamannya fanpage gitu hihihi (*ampuuuuun deh ini anak). Tapi ngefans sama Sahrul Gunawan juga ada dasarnya loh...menurut penilaianku (kala itu), Sahrul adalah idola remaja yang cukup “sholih” tidak pernah ada cerita-cerita miring, bukan hanya masalah suaranya bagus aja. Makanya (sekarang) tetep aja heran kalo ada remaja yang ngefans artis yang (maaf) pernah memamerkan perilaku yang sangat jauh dari hal-hal yang baik. Okelah seandainya itu masa lalu, tapi kalau lalu dijadikan trendsetter remaja pie jal???oh tidakkkk! So... Pastinya diriku akan mencak-mencak kalo pas tak tanya mbak-mbak mahasiswaku, ngefans siapa?? A******L, huaaaa....tidaaak...Ibu.tidak.suka.!!! boleh kan berpendapat :)
Masa remaja adalah masa yang amazing, karena aneh, wabil unik dan ada ada aja...(*kayaknya emang teori tentang remaja jg gitu kan??).
Sekelumit keanehan di masa remajaku yang bikin ketawa sendiri kalo diingat!but anyway, semuanya manis untuk dikenang kok, meskipun kadang malu-maluin.

Pada akhir masa SMA, masih bingung dengan mau dibawa kemana nasib ini??? Hati terdalam, satu cita-cita itu masih melekat indah dan tidak tergoyah. Tapi ada banyak pertimbangan harus saya pikirkan untuk melangkah maju...Dan mungkin untuk cerita ini saya pikir tidak perlu saya tulis. Cukup saya yakini saja, apa yang kita inginkan mungkin saja bukanlah yang terbaik dan wajib untuk diyakini bahwa Allah SWT Maha Tahu atas langit bumi dan seisinya, pasti memberikan yang terbaik untuk hambanya....so, the next chapter sekolah saya nanti, pastilah itu yang terbaik menurut perhitunganNya....

Notes:
Disekolah yang saya pilih sendiri ini, ada banyak pesan kehidupan yang saya ambil. Disini saya belajar hidup yang sesungguh-sungguhnya. Perlu perjuangan yang luar biasa untuk berprestasi, butuh perjuangan untuk bertahan hidup. Sangat merasa kecil dilautan anak-anak hebat membuat saya sangat amat sadar, sedikitpun jangan pernah merasa hebat, diatas langit masih ada langit!!
*Last but not least, dari sekolah ini, skenario indah milikNya itu berawal, menuju kesempurnaan hidup, melengkapi separuh sayap tuk mengelilingi langit kehidupan,  menuju kebahagiaan yang tiada terperi...amiiin, amiin ya robbal ‘alamin..

Kamis, 13 Maret 2014

Sekolah itu Ibu

Sedang ingin saja menuliskan cerita ini, mungkin sebenarnya sudah lapuk, tapi tak pernah hilang dari pendaran ingatanku. Hari itu, salah satu hari terindah di tahun 1994, pertama kali mengenakan seragam berwarna biru dan putih. Lebih manis karena terbingkai dengan jilbab. Ya, sekolahku ini mewajibkanku berseragam dengan "sempurna", harus berjilbab. Ini tak pernah kurasakan sebagai beban atau apa, hanya saja begitu saja kulakukan dengan rutinitas yang melekat setiap harinya. 

Masa yang sangat indah kala itu, hanya saja terusik dengan beberapa dengungan yang tidak nyaman dari teman-temanku dulu. Sempat beberapa kali aku melakukan klarifikasi dengan bapak. "Bapak kenapa aku harus sekolah disini?". "Teman-temanku yang NEMnya lebih kecil dariku saja bisa sekolah di sekolah negeri yang baik itu, kenapa Bapak mengharuskan aku sekolah disini?".

Tidak pernah ada jawaban yang melegakanku, kecuali hanya himbauan Bapak yang tidak bisa kuklarifikasi lebih lanjut kala itu. "Sudah, lakukan saja yang terbaik disini".
Tidak pernah kupermasalahkan lagi apa saja yang kudengar. 

Aku tetap menjalankan masa-masa indah ini dengan ceria. Setiap hari tepat pukul 06.00WIB tidak kurang dari 5 sepeda onthel, sudah terparkir di jalan depan rumahku, Tak canggung akupun berlalu, setelah berpamitan dengan Bapak dan Ibu. Senda gurau dijalan yang sejuk itu terdengar riuh, damai dan apa adanya. Beberapa tragedi juga sempat terjadi, ada-ada saja...ketika ada yang menyelip tapi stang malah nempel di keranjang sepeda depannya, lalu terjadi tabrakan beruntunlah...tapi semua selalu diakhiri dengan tawa. Tidak terasa, bersepeda onthel ke sekolah ini terlalui juga 3 tahun penuh, tidak kurang dan tidak lebih. Tidak ada kemewahan antar jemput atau yang lainnya.

Pada saat jam sekolah usai dan bersiap untuk les, sama-sama kami membuka bekal. Pernah kala itu Ibu membawakan asam manis cumi-cumi, tapi itu cukup satu kali saja. Teman-temanku saja bahagia dengan oseng tempe atau tumis kangkung. Ya mereka mengajarkan kesederhanaan buatku. 

Dompetku, adalah dompet pemberian paklik (adiknya ibu). Bagus sekali, dan akupun merasa malu membawanya karena teman-temanku tak ada yang memiliki. Demikian pula sepatu, tas, dan segala kemewahan yang ada, mungkin tidak pernah "kuminta" dari Bapak dan Ibu. Karena semua teman-temanku tidak ada yang bermewah mewahan. Uang saku 100 rupiah kala itu atau mungkin kalau dinominal sekarang 1000 rupiah, sudah sangat cukup, karena bahkan banyak teman temanku yang tidak membawa bekal uang.

Beberapa perlombaan juga sering kami ikuti bersama teman-teman, sayang tak pernah menjadi juara. Tidak kutahu kenapa, mesti seperti kata Bapak, lakukan yang terbaik sudah kuupayakan dengan sekuat-kuatnya, dan lagi-lagi teman-temanku dari SMP-SMP bagus itu yang mendapatkannya. Saya tidak pernah berpikir kala itu atas kekalahkan-kekalahan kami itu. Mau apapun kami selalu ceria, karena kami sudah tahu kemenangan itu slalu jauh dari kami. Meskipun saat ini, kadang terpikir, bagaimanakan obyektivitas penilaian kala itu? Apakah memang ada judgment bahwa sekolah kami "Ndeso"?? entahlah...kuyakini sendiri dalam hati, pasti tidak...

di Akhir masa SMP itu akhirnya aku berjuang sendiri atas namaku, atas nama nilai-nilaiku untuk mencoba peruntungan mendaftar di SMA yang sangat favorit, ya SMA Taruna Nusantara Magelang. Tidak tahu, ingin saja aku mencobanya. Bukan pungguk merindukan bulan, tapi andaikan tak lolos, bukankah hal itu sudah sering saya alami?? 

Perjuangan itu dimulai, tes demi tes dilalui, sampai akhirnya pada penetapan terakhir seleksi di Semarang, kalau tidak salah tinggal menyisakan 6 peserta putra dan 2 peserta putri, ternyata aku adalah satu diantaranya. Teman-teman bersorak riang, menyelamatiku dengan ketulusan mereka yang sesungguh-sungguhnya. Berangkatlah aku bertempur  ke Semarang, sementara hari itu teman-teman berwisata ke Yogyakarta. Seperti biasa, aku hanya menjalankan apa yang penah Bapak sampaikan, lakukan yang terbaik. Ternyata SMA Taruna Nusantara akhirnya belum memberikan kesempatan untukku, tidak apa-apa. 

Teman-teman mengajarkanku untuk selalu berbahagia apapun hasilnya. 
Akhirnya ketika kelulusan, nilai-nilai itu berjejer muncul, NEM diumumkan...peringkat pertama Kholid Anwar, kedua Niken Meilani, dan ketiga Nuraeni...hanya nilai kami bertiga yang mampu menembus sekolah yang kata orang disebut SMA "baik" atau "favorit"..tapi kami bertiga punya jalan masing-masing.....jalan yang berbeda....
Mbak nuraini yang akhirnya menikah dengan sodaraku, dan tinggal di depan rumah bapak ibu.  Dan akhirnya Kholid Anwar-lah teman SMP yang pertama kali berpulang. Hari itu, kalau tidak salah Hari Sabtu, 23 Oktober 1999. Dan pada waktu itu, entahlah saya merasa sangat sedih :(

Pertanyaan selanjutnya pada Bapak, bolehkan aku sekolah di SMA itu pak?
"Bapak ingin kamu jadi anak baik, tidak cukup hanya pintar"
Sekolah itu Ibu, Ibu tak bisa kita pilih tapi kita hormati dan sayangi..
Sekolah itu Ibu, telah melahirkan kita dengan segudang ilmu..
Sekolah itu Ibu, hanya bisa memfasilitasi, tapi keberhasilan untuk meraihnya, ada ditangamu sendiri!

Ya di akhir cerita ini, kukirim salam dan rindu untuk teman-temanku semua.
Kenangan SMP dengan segala cerita kesederhanaannya, keramahan teman-teman...sangat lekat di pendaran ingatan. 
Mencoba mengingat siapa saja teman-teman terbaikku saat itu, ada Mbak Nuraini yang kini bisa tiap hari kusapa. Ada Sis Budi Daryanto yang pernah kupukul (maaf ya bro he he), Dawawi yang wajahnya masih sama saja sampai sekarang. Ada Susilah, Kasmiyati, Puji Suciati yang menjadi teman belajar kelompok, tapi sebenarnya lebih banyak ngobrol daripada belajar.  Ada Mbak sholikhah, supriyati, Anik, dan Yuli yang kadang menemaniku naik sepeda. Ada Mujiyanto yang meminjamiku topi saat seleksi masuk di SMA TN, ada Iswiyanto yang dulu kupanggil Ito, ada Asfarodin yang dulu pernah dijodoh-jodohkan denganku, entah apa alasannya kutak tahu huhuhu. Ada Istiqomah yang sayang sekali denganku. Ada listyorini, nur handaningsih yang ibuknya buka warung dan menjadi langganan jajan kami semua. Ada Sakirun yang hitam manis, Rochim yang tinggi kurus, ada Murtinah sahabatku yang diakhir cerita ternyata kita pernah dibuat jatuh cinta pada seseorang yang sama ha ha ha. Ada Taufik yang kalau ndak salah teman SD ku yang dulu pernah ngasih surat ke saya, semacam cerita Carussel ha ha ha...Ada rubiyatun temen paling kocak dan suka bikin ketawa dengan ulahnya yang selalu anti mainstream, yang di jaman itu sudah selalu cerita tentang "pacar" di saat saya menstruasi pun belum ha ha ha. Dan masih banyak lagi teman-teman hebatku kala itu, yang sekarang sudah menjelma menjadi ibu dan ayah...Yang pernah naksir-naksiran atau musuh-musuhan mari kita lupakan ha ha ha.. 
Love you all guys..

*) 
Disekolah kecil itu, aku belajar bersyukur 
Disekolah kecil itu, aku belajar untuk tidak mengeluh (malu, melihat mereka saja tidak pernah mengeluh)
Disekolah kecil itu aku belajar ikhlas menerima kekalahan (dalam setiap kekalahan selalu ada kebahagiaan)...

*) ilmu kehidupan, cukup sebagai bekal menghadapi dunia yang "ganas" ini, terima kasih Pak...aku tahu kenapa aku harus sekolah disana, kala itu :)