Sedang ingin saja menuliskan cerita ini, mungkin sebenarnya sudah lapuk, tapi tak pernah hilang dari pendaran ingatanku. Hari itu, salah satu hari terindah di tahun 1994, pertama kali mengenakan seragam berwarna biru dan putih. Lebih manis karena terbingkai dengan jilbab. Ya, sekolahku ini mewajibkanku berseragam dengan "sempurna", harus berjilbab. Ini tak pernah kurasakan sebagai beban atau apa, hanya saja begitu saja kulakukan dengan rutinitas yang melekat setiap harinya.
Masa yang sangat indah kala itu, hanya saja terusik dengan beberapa dengungan yang tidak nyaman dari teman-temanku dulu. Sempat beberapa kali aku melakukan klarifikasi dengan bapak. "Bapak kenapa aku harus sekolah disini?". "Teman-temanku yang NEMnya lebih kecil dariku saja bisa sekolah di sekolah negeri yang baik itu, kenapa Bapak mengharuskan aku sekolah disini?".
Tidak pernah ada jawaban yang melegakanku, kecuali hanya himbauan Bapak yang tidak bisa kuklarifikasi lebih lanjut kala itu. "Sudah, lakukan saja yang terbaik disini".
Tidak pernah kupermasalahkan lagi apa saja yang kudengar.
Aku tetap menjalankan masa-masa indah ini dengan ceria. Setiap hari tepat pukul 06.00WIB tidak kurang dari 5 sepeda onthel, sudah terparkir di jalan depan rumahku, Tak canggung akupun berlalu, setelah berpamitan dengan Bapak dan Ibu. Senda gurau dijalan yang sejuk itu terdengar riuh, damai dan apa adanya. Beberapa tragedi juga sempat terjadi, ada-ada saja...ketika ada yang menyelip tapi stang malah nempel di keranjang sepeda depannya, lalu terjadi tabrakan beruntunlah...tapi semua selalu diakhiri dengan tawa. Tidak terasa, bersepeda onthel ke sekolah ini terlalui juga 3 tahun penuh, tidak kurang dan tidak lebih. Tidak ada kemewahan antar jemput atau yang lainnya.
Pada saat jam sekolah usai dan bersiap untuk les, sama-sama kami membuka bekal. Pernah kala itu Ibu membawakan asam manis cumi-cumi, tapi itu cukup satu kali saja. Teman-temanku saja bahagia dengan oseng tempe atau tumis kangkung. Ya mereka mengajarkan kesederhanaan buatku.
Aku tetap menjalankan masa-masa indah ini dengan ceria. Setiap hari tepat pukul 06.00WIB tidak kurang dari 5 sepeda onthel, sudah terparkir di jalan depan rumahku, Tak canggung akupun berlalu, setelah berpamitan dengan Bapak dan Ibu. Senda gurau dijalan yang sejuk itu terdengar riuh, damai dan apa adanya. Beberapa tragedi juga sempat terjadi, ada-ada saja...ketika ada yang menyelip tapi stang malah nempel di keranjang sepeda depannya, lalu terjadi tabrakan beruntunlah...tapi semua selalu diakhiri dengan tawa. Tidak terasa, bersepeda onthel ke sekolah ini terlalui juga 3 tahun penuh, tidak kurang dan tidak lebih. Tidak ada kemewahan antar jemput atau yang lainnya.
Pada saat jam sekolah usai dan bersiap untuk les, sama-sama kami membuka bekal. Pernah kala itu Ibu membawakan asam manis cumi-cumi, tapi itu cukup satu kali saja. Teman-temanku saja bahagia dengan oseng tempe atau tumis kangkung. Ya mereka mengajarkan kesederhanaan buatku.
Dompetku, adalah dompet pemberian paklik (adiknya ibu). Bagus sekali, dan akupun merasa malu membawanya karena teman-temanku tak ada yang memiliki. Demikian pula sepatu, tas, dan segala kemewahan yang ada, mungkin tidak pernah "kuminta" dari Bapak dan Ibu. Karena semua teman-temanku tidak ada yang bermewah mewahan. Uang saku 100 rupiah kala itu atau mungkin kalau dinominal sekarang 1000 rupiah, sudah sangat cukup, karena bahkan banyak teman temanku yang tidak membawa bekal uang.
Beberapa perlombaan juga sering kami ikuti bersama teman-teman, sayang tak pernah menjadi juara. Tidak kutahu kenapa, mesti seperti kata Bapak, lakukan yang terbaik sudah kuupayakan dengan sekuat-kuatnya, dan lagi-lagi teman-temanku dari SMP-SMP bagus itu yang mendapatkannya. Saya tidak pernah berpikir kala itu atas kekalahkan-kekalahan kami itu. Mau apapun kami selalu ceria, karena kami sudah tahu kemenangan itu slalu jauh dari kami. Meskipun saat ini, kadang terpikir, bagaimanakan obyektivitas penilaian kala itu? Apakah memang ada judgment bahwa sekolah kami "Ndeso"?? entahlah...kuyakini sendiri dalam hati, pasti tidak...
di Akhir masa SMP itu akhirnya aku berjuang sendiri atas namaku, atas nama nilai-nilaiku untuk mencoba peruntungan mendaftar di SMA yang sangat favorit, ya SMA Taruna Nusantara Magelang. Tidak tahu, ingin saja aku mencobanya. Bukan pungguk merindukan bulan, tapi andaikan tak lolos, bukankah hal itu sudah sering saya alami??
Perjuangan itu dimulai, tes demi tes dilalui, sampai akhirnya pada penetapan terakhir seleksi di Semarang, kalau tidak salah tinggal menyisakan 6 peserta putra dan 2 peserta putri, ternyata aku adalah satu diantaranya. Teman-teman bersorak riang, menyelamatiku dengan ketulusan mereka yang sesungguh-sungguhnya. Berangkatlah aku bertempur ke Semarang, sementara hari itu teman-teman berwisata ke Yogyakarta. Seperti biasa, aku hanya menjalankan apa yang penah Bapak sampaikan, lakukan yang terbaik. Ternyata SMA Taruna Nusantara akhirnya belum memberikan kesempatan untukku, tidak apa-apa.
Teman-teman mengajarkanku untuk selalu berbahagia apapun hasilnya.
Teman-teman mengajarkanku untuk selalu berbahagia apapun hasilnya.
Akhirnya ketika kelulusan, nilai-nilai itu berjejer muncul, NEM diumumkan...peringkat pertama Kholid Anwar, kedua Niken Meilani, dan ketiga Nuraeni...hanya nilai kami bertiga yang mampu menembus sekolah yang kata orang disebut SMA "baik" atau "favorit"..tapi kami bertiga punya jalan masing-masing.....jalan yang berbeda....
Mbak nuraini yang akhirnya menikah dengan sodaraku, dan tinggal di depan rumah bapak ibu. Dan akhirnya Kholid Anwar-lah teman SMP yang pertama kali berpulang. Hari itu, kalau tidak salah Hari Sabtu, 23 Oktober 1999. Dan pada waktu itu, entahlah saya merasa sangat sedih :(
Mbak nuraini yang akhirnya menikah dengan sodaraku, dan tinggal di depan rumah bapak ibu. Dan akhirnya Kholid Anwar-lah teman SMP yang pertama kali berpulang. Hari itu, kalau tidak salah Hari Sabtu, 23 Oktober 1999. Dan pada waktu itu, entahlah saya merasa sangat sedih :(
Pertanyaan selanjutnya pada Bapak, bolehkan aku sekolah di SMA itu pak?
"Bapak ingin kamu jadi anak baik, tidak cukup hanya pintar"
Sekolah itu Ibu, Ibu tak bisa kita pilih tapi kita hormati dan sayangi..
Sekolah itu Ibu, telah melahirkan kita dengan segudang ilmu..
Sekolah itu Ibu, hanya bisa memfasilitasi, tapi keberhasilan untuk meraihnya, ada ditangamu sendiri!
Ya di akhir cerita ini, kukirim salam dan rindu untuk teman-temanku semua.
Kenangan SMP dengan segala cerita kesederhanaannya, keramahan teman-teman...sangat lekat di pendaran ingatan.
Mencoba mengingat siapa saja teman-teman terbaikku saat itu, ada Mbak Nuraini yang kini bisa tiap hari kusapa. Ada Sis Budi Daryanto yang pernah kupukul (maaf ya bro he he), Dawawi yang wajahnya masih sama saja sampai sekarang. Ada Susilah, Kasmiyati, Puji Suciati yang menjadi teman belajar kelompok, tapi sebenarnya lebih banyak ngobrol daripada belajar. Ada Mbak sholikhah, supriyati, Anik, dan Yuli yang kadang menemaniku naik sepeda. Ada Mujiyanto yang meminjamiku topi saat seleksi masuk di SMA TN, ada Iswiyanto yang dulu kupanggil Ito, ada Asfarodin yang dulu pernah dijodoh-jodohkan denganku, entah apa alasannya kutak tahu huhuhu. Ada Istiqomah yang sayang sekali denganku. Ada listyorini, nur handaningsih yang ibuknya buka warung dan menjadi langganan jajan kami semua. Ada Sakirun yang hitam manis, Rochim yang tinggi kurus, ada Murtinah sahabatku yang diakhir cerita ternyata kita pernah dibuat jatuh cinta pada seseorang yang sama ha ha ha. Ada Taufik yang kalau ndak salah teman SD ku yang dulu pernah ngasih surat ke saya, semacam cerita Carussel ha ha ha...Ada rubiyatun temen paling kocak dan suka bikin ketawa dengan ulahnya yang selalu anti mainstream, yang di jaman itu sudah selalu cerita tentang "pacar" di saat saya menstruasi pun belum ha ha ha. Dan masih banyak lagi teman-teman hebatku kala itu, yang sekarang sudah menjelma menjadi ibu dan ayah...Yang pernah naksir-naksiran atau musuh-musuhan mari kita lupakan ha ha ha..
Love you all guys..
*)
Disekolah kecil itu, aku belajar bersyukur
Disekolah kecil itu, aku belajar untuk tidak mengeluh (malu, melihat mereka saja tidak pernah mengeluh)
Disekolah kecil itu aku belajar ikhlas menerima kekalahan (dalam setiap kekalahan selalu ada kebahagiaan)...
Disekolah kecil itu, aku belajar bersyukur
Disekolah kecil itu, aku belajar untuk tidak mengeluh (malu, melihat mereka saja tidak pernah mengeluh)
Disekolah kecil itu aku belajar ikhlas menerima kekalahan (dalam setiap kekalahan selalu ada kebahagiaan)...
*) ilmu kehidupan, cukup sebagai bekal menghadapi dunia yang "ganas" ini, terima kasih Pak...aku tahu kenapa aku harus sekolah disana, kala itu :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar