Kamis, 12 Mei 2016

Ada apa dengan cintaku...

Ada apa dengan cintaku...
Alhamdulillah rilis juga ada apa dengan cintaku versi saya..sudah beberapa waktu nulisnya tapi baru sempat upload di blog. Ya..saat nulis ini saya sedang dilanda demam AADC dua, yang sangat membawa saya menuju kebaperan. Kenapa oh kenapa?...

Ya jaman AADC pertama saya masih kuliah tingkat 2, belum model juga nonton di cinema yang kala itu saya sering menyebut bioskop. Malah-malah kalau denger istilah bioskop udah neg-think duluan. Soalnya waktu kecil pernah diajak nonton Ari Anggara, yang keinget bukan filmnya, tapi malah “bau” dan apek asap rokok bioskop. Padahal waktu itu sepertinya udah nonton di bioskop yang palin tenar di kota kecil kami, Muntilan (padahal juga cuma ada itu kayaknya he2). Kembali soal AADC pertama, di semarang waktu itu sudah ada cinema tapi karena sayanya masih kuper dan kudet alhasil mikir cinema itu juga mirip dengan bioskop yang pernah saya datengi. Selain itu masalahnya adalah gak ada yang ngajak nonton daannn budget buat nonton film terlalu fantastis bagi kantong saya, yang buat mempertahankan hidup sebulan harus berjualan translate bahasa Inggris buat ibu-ibu progsus.

Ngerti isi AADC pertama juga akhirnya dari tivi. Banyak yang nyetel film itu berulang-ulang, dan akhirnya saya bisa menangkap pesan dari cerita itu. Gadis-gadis SMA yang bergeng-geng di kota metropolitan yang cantiknya ruarr biasa dan kisahnya dengan sang cowok yang ganteng, dingin, ketus dan gimanaaa gitu. Ya itulah cerita AADC pertama. (udah pada tahu buuuu *oh maaaf).

AADC=jaman SMA, bener kan ya..
Ya saya juga punya geng, tapi geng kami bukan geng elit seperti gengnya si cinta. Geng kami, tak ada party party, kami anak desa yang sangat cupu. Kegiatan kami cuma kunjung mengunjung. Tak ada HP, atau komunikasi yang entah berantah lainnya. Entah kenapa waktu itu ya bisa bisa aja jalan kemana hayuk tanpa harus kencan. Kunjung mengunjungi itu juga biasanya sangat seru saat salah satu diantara kami ulang tahun. Kado tak perlu mahal, bahkan suprise yang sering kami lakukan adalah menangkap katak hidup-hidup, lalu kita bungkus rapi...dannnn...suprise...biasanya kita menutup petualangan berkunjung kami dengan memetik salak, jambu atau apapun yang dipunyai dari temen2 kami yang sedang dikunjungi. Sayang, geng ini tidak berakhir dengan happy ending. Dua diantara personilnya telah dipanggil oleh Allah SWT. Dua-duanya karena kecelakaan sepeda motor. Personil yang lain?menyebar dan beberapa, loss contact. Salam sayangku untuk personil IFIA BnT, geng saya, A itu nama saya, kenapa bukan Niken. Ya saya suka menulis A=Alul. I’m sure that all of my friends know about who you are! *kedip kedip mata.

Si “A” ini adalah inisial dari seseorang yang pernah membuat saya di BP sama alm. Pak munadhir, guru favorit SMA kami. Nama yang pernah membuat saya kalap untuk selalu datang ke toko laser (semacam foto kopi diperbesar), membawa sepotong wajahnya lalu dari hasil laser seperti poster, yang kemudian ditempelkan di dinding kamar saya. Ya saya mengoleksi semua hal tentangnya. Dan akhirnya saya malu sendiri mengingat polah tingkah saya waktu itu. Tapi kala itu tak ada satupun yang bisa menghentikan ketidakwarasan ini, pun Bapak dan Ibu. Malah saya baru tahu kalau Bapak Ibu pernah konsul ke psikolog, dan jawabannya psikolognya adalah asal tidak menggangu belajar dan nilai, masih wajar. Maafkan sayaaa...rangking saya terjun bebas saat kelas 2 SMA itu.... Kisah ini harus segera diakhiri. Ya biarlah kisah itu berakhir dengan sendirinya...jadi..A itu adalah nick name-nya mas Sahrul Gunawan "si Jun" dalam Jin dan Jun..masa-masa dimana saya pernah ngefans berat sama beliau. Sekarang? Insyaallah sudah kembali mendarat dari planet lain...sudah membumi..insyaallah he2.

Kembali cerita geng...Saya juga punya geng spesial naik angkot..tapi lebih tepatnya bukan geng..tapi “persatuan gadis-gadis ngangkot”. Sepeda motor saat itu bagi saya adalah salah satu bentuk kemewahan hidup. Jadi, Jauh-jauhlah berkhayal berangkat sekolah naik motor!. Kembali ke cerita angkot kami. Angkot kami warna hijau. Ada pilihan lain, yaitu naik bis berpintu 2, kalau tidak salah namanya bis tirto mulyo. Bayar bis Cuma 100 atau 200 rupiah. Kalau ngangkot 500 rupiah. Sesuai rutenya, saya adalah penumpang pertama dari angkot ini, nanti akan disusul naik oleh Sri Mulyani dan Faridayanti, yang beberapa menit kemudian akan disusul oleh Elida Yusi Mayasari, dan pada kesempatan terakhir naik Wantiyah dan Fadhilah si gadis cantik berlesung pipit ini. Demikian ketika pulang sekolah, kami pun akan berjalan dampyak dampyak rame-rame untuk menunggu bis. Beberapa dari kami juga saling mengunjungi. Seingat saya, rumah mbak Sri Mulyani-lah yang paling sering saya datangi, tentunya dengan niat tulus ikhlas belajar matematika. Segala jurus yang dimiliki mbak Sri Mulyani sudah ditularkan semuanya kepada saya. Tapi takdir tetap berkata lain, bahwa nilai matematika saya selalu lebih kecil dengan nilai Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tentunya. Ya sudah, tentunya Allah SWT sudah mencatat niat baik saya dan mbak Sri Mulyani untuk belajar dan membelajari. Dan benar saja, mbak Sri Mulyani kalau tidak salah mendapat nilai sempurna 10 untuk nilai Ebtanas Matematika kala itu...

Kembali ke cerita AADC ya..
Boomingnya AADC2 juga cukup membuat galau keluarga kami. Setelah menimbang dan memikirkan apalagi setelah banyaknya tulisan review tentang AADC2, akhirnya dengan bulat hati nontonlah kami. Terlepas dari pro dan kontranya...tapi saya terhibur. Salah satu hiburan itu adalah, kesadaran bahwa saya kuper...sebagai orang magelang yang belum pernah datang ke Punthuk setumbu itu, sesuatu. Baiklah cukup menginsiprasi kapan-kapan subuh pergi kesana, romantis aiih aiih. Saya juga agak tersinggung berat waktu tahu kalau salah satu lokasi syutingnya itu di Prawirotaman, yang berarti itu persis di belakang kantor saya. Iya belakang kantor!!. Tapi kenapa saya begitu kudet. Bahkan premier juga ternyata di Jogja..Sungguh terlalu malu-ku ini hi hi hi..

Sayang seribu sayang mas riri reza tidak tanya ke saya soal tempat tempat romantis dan kuliner yang wuiih super duper keren di magelang. Sekalian si cinta dan rangga dari subuh di punthuk setumbu, mereka bisa beli sarapan di bebek goreng mbak sri sadegan tempuran. Tempatnya klasik juga, sambelnya, kuahnya...bisa juga ke mangut beong bu endang progowati...atau kalo pingin seger bisa sarapan soto pak much tambakan muntilan juga asooi nian. Mak nyuss deh pokoknya...nanti bisa mampir candi ngawen...eksotis juga..abis tu main air di kali blongkeng..wuiih gak kalah seru. Biar badan gak masuk angin..bisa beli jamu peres di pasar jambu muntilan, yang mbah penjualnya udh duduk disana 50 tahun (kata simbahnya). Nahh...makan siang bisa mbakmi pak toto kidul pasar muntilan, kalau pingin mbebek lagi bisa ke Pondok Rahayu atau RM bu Santi (ini punya simbahnya temen saya). Saya rasa itu cukup ekonomis dan sehat dibanding maem sate he2...

Nah nah.. Di akhir nonton ini, saya....nyeseg!!! Dengan getem getem saya bilang...nek aku wegah...enak aja di PHP bertahun-tahun. Layaknya kertas yang udah gak dipakai dibuang ke tong sampah lalu...diambil lagi??ooh tidakkk...bisa saja suatu ketika ia meninggalkan lagi. Nek aku emoh.
Ehhh, tiba-tiba *jreng jreng* ada yang menggenggam tangan saya, lalu bilang. "Kalau cinta itu sudah menunjam ke jantung, ia tak akan pernah melepaskannya lagi sayang". Uppps tiba-tiba saya merasa...saya itu....mbak cinta...*kibas kibas jilbab dan happy ending*.

Tentang balikan sama mantan..analisis saya secara pribadi sih nggak papa selagi semuanya sepakat. Memang sih agak kurang keren, berkelana mengembara ke seluruh dunia kok balik sama seleera asal...tapiii..asyik malahan dan seru. Ya misalnya balikan sama mantan temen SMA yang pinter dan sholih, mantan temen ngaji yang oke, mantan temen les yang kece...asal bukan mantannya temen sendiri..hihihi.

Demikian AADC ala ala versi saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar